SEMARANG, 21/2 (beritajateng.tv) – Pembangunan Jembatan Kaca di Kawasan Hutan Tinjomoyo rampung tahun lalu. Namun sampai sekarang, belum jelas kapan obyek wisata baru milik Pemkot Semarang ini akan dibuka dan bisa dinikmati wisatawan.
DPRD Kota Semarang, mendesak agar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) selaku leading sektor, segera membuat kajian keselamatan, kesehatan dan aturan, sebelum Jembatan Kaca Tinjomoyo, dibuka untuk umum.
“Harus ada kajian dulu, sudah layak belum untuk dibuka. Kajian keselamatan, keamanan, kesehatan dan aturan untuk pengunjung harus disiapkan,” kata Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Abdul Majid, Selasa (21/2/2023).
Politikus Partai Gerindra, ini menjelaskan obyek wisata Jembatan Kaca Tinjomoyo ini, adalah obyek wisata baru yang cukup ekstrim dan sangat membahayakan bagi orang yang takut ketinggian, ataupun yang memiliki riwayat penyakit jantung. Selain itu, Majid juga meminta agar disiapkan sumber daya manusia yang memiliki ketrampilan khusus bekerja ketinggian.
“Misalnya Sumber Daya Manusia belum siap, ya jangan dibuka. Karena ini butuh ketrampilan khusus, intinya harus siap dan aman dulu untuk pengunjung,” tambahnya.
Kajian kata dia perlu dilakukan, agar Disbudpar bisa tahu, apakah ada kekurangan dari Jembatan Kaca Tinjomoyo. Misalnya segi keamanan lain, sarana dan pra sarana, ataupun infrastruktur lainnya.
“Mumpung awal tahun, bisa diperbaiki dengan anggaran yang ada. Sehingga bisa disiapkan secara prima, jangan sampai menghabiskan biaya miliaran tapi malah tidak maksimal,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Disbudpar Kota Semarang, Wing Wiyarso mengaku, pihaknya tengah membuat kajian, terkait keselamatan atau K3 bagi pengunjung. Sebelum kajian sempurna, pihaknya belum bisa dibuka untuk umum.
“Belum dibuka memang, karena belum diserahkan ke Disbudpar. Apalagi kajian keselamatan juga belum kita buat, intinya K3 ini harus klir dulu,” tambah dia.
Wing menjelaskan, pihaknya juga menjelaskan jika kajian ini juga membahas, standard operasional prosedur (SOP), dan sumber daya manusia yang menghandle Jembatan Kaca harus memiliki kompetensi terkait keamanan, memandu orang atau bekerja digedung tinggi.
“Sarprasnya memang belum lengkap, reel pembatas samping harus ditutup kaca untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan,” bebernya.
Targetnya lanjut Wing, jembatan kaca bisa beroperasional tahun ini mininal semester kedua. Dalam kajian, kata dia, juga membahas alur naik turun pengunjung, apalagi saat ini jembatan masih dibangun satu sisi, sehingga butuh mengatur akses dan jumlah pengunjung yang naik dalam satu waktu.
“Ini kan baru satu sisi, nah kita ajukan ke DPU, untuk melanjutkan sisi sebelah barat. Karena idealnya harus nyambung, naik dan turunnya berbeda, nah masalah ini juga masuk dalam kajian,” pungkas dia. (*)
Editor: Elly Amaliyah





