Kesehatan

Didominasi Pasangan Homoseksual, HIV di Kota Semarang Tercatat 535 Kasus pada 2023

×

Didominasi Pasangan Homoseksual, HIV di Kota Semarang Tercatat 535 Kasus pada 2023

Sebarkan artikel ini
Penyebaran cacar monyet | HIV Semarang
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam, saat ditemui di Semarang, Rabu, 25 Oktober 2023. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Abdul Hakam, mengungkapkan bahwa jumlah kasus HIV di Semarang saat ini mencapai 7.943 kasus hingga tahun 2023.

Data yang Hakam sampaikan mengenai jumlah kasus HIV di Semarang tersebut merujuk pada periode antara tahun 1995 hingga 2023. Pada tahun 2023 sendiri, tercatat sebanyak 535 kasus baru.

Dari keseluruhan kasus HIV yang terjadi di Semarang, kelompok yang paling banyak terkena adalah kelompok homoseksual atau lelaki seks dengan lelaki (LSL). Kelompok itu sendiri berkontribusi hingga 51 persen dari total kasus.

“Mayoritas kasus terjadi pada individu berjenis kelamin laki-laki, mencapai 69 persen. Faktor resiko yang paling dominan adalah aktivitas homoseksual atau lelaki seks dengan lelaki (LSL) dengan persentase sebanyak 51 persen,” tutur Hakam, Kamis, 7 Desember 2023,

BACA JUGA: Kasus HIV AIDS di Demak Meningkat, Perilaku LGBT Jadi Penyumbang Terbanyak

Usia dan pekerjaan penderita HIV di Semarang

Lebih lanjut, Hakam menekankan bahwa 78 persen dari ribuan kasus HIV di Kota Semarang terjadi pada mereka yang berusia produktif. Yakni, di rentang usia 20 hingga 44 tahun. Mayoritas dari mereka merupakan pegawai swasta.

“Dalam angka tersebut, 51 persen dari faktor resiko berasal dari aktivitas homoseksual pada rentang usia 20 hingga 44 tahun. Hal ini berdampak pada produktivitas angkatan kerja,” jelasnya.

Adapun distribusi kasus tertinggi tercatat di Kecamatan Semarang Barat, berlanjut Kecamatan Tembalang, Genuk, Pedurungan, Ngaliyan, dan Semarang Utara.

“Hingga saat ini, 63 persen dari penderita HIV berdomisili di Kota Semarang. Sedangkan 37 persen sisanya berasal dari luar Kota Semarang,” tambah Hakam.

Hakam juga menyoroti beberapa tantangan dalam upaya penanggulangan HIV/Aids di Kota Semarang. Terlebih, soal stigma dan diskriminasi yang masih ada terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) dari masyarakat sekitar.

“Kami juga mengalami kesulitan dalam melakukan pencarian terhadap yang terputus dari terapi ARV dan akses terhadap obat ARV bagi kasus HIV di luar Kota Semarang,” ungkapnya.

BACA JUGA: Targetkan 3 Zero HIV/AIDS, Wagub Jateng: Perlu Kepercayaan ODHA

Langkah-langkah Pemkot untuk pencegahan

Tidak hanya itu, Pemerintah Kota juga telah melakukan sejumlah inovasi untuk pencegahan HIV, seperti penambahan fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan dan pengobatan HIV.

Selain itu, layanan seperti tes malam hari (Lydia Dimari), layanan pengantaran obat ARV secara gratis (Layar Artis), hingga layanan pengambilan obat TBC (Dhrive Thru) juga telah diterapkan.

“Dalam upaya pencegahan, kami melakukan tes HIV mulai dari ibu hamil, pasien tuberkulosis (TB), pasien infeksi menular seksual (IMS), penjaja seks, LSL, waria, pengguna napza suntik sebanyak 545, dan warga binaan pemasyarakatan. Capaian kami hingga tahun 2023 mencapai 101 persen,” tandas Hakam. (*)

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp