BLORA, beritajateng.tv – Tiga rumah warga di Desa Buluroto, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, terancam longsor akibat dugaan pergerakan tanah.
Kondisi tersebut membuat warga setempat hidup dalam kekhawatiran setiap hari dan berharap ada penanganan serius dari pemerintah.
Pergerakan tanah yang terjadi menyebabkan sejumlah rumah warga ambles dari hari ke hari. Berbagai upaya mandiri telah warga lakukan, mulai dari pengurukan hingga pengeboran tanah, namun belum membuahkan hasil.
Salah satu warga terdampak, Nurhayati, mengatakan pergerakan tanah di lokasi tempat tinggalnya telah berlangsung cukup lama dan hingga kini masih terus terjadi.
“Hampir setiap hari suami saya harus menambah ganjalan tiang rumah, karena tanahnya turun sekitar empat sentimeter,” kata Nurhayati, Senin 5 Januari 2025.
BACA JUGA: Atasi Sampah Perkotaan, Kelurahan Mlangsen Blora Hadirkan Kotak Donasi Sampah-Budi Daya Maggot
Menurutnya, area tanah yang mengalami pergerakan berada pada kedalaman sekitar 1,5 meter dari permukaan dengan panjang retakan mencapai sekitar 200 meter. Lokasi tersebut berada tidak jauh dari aliran Sungai Lusi.
Akibat kondisi itu, bangunan rumah mengalami kerusakan cukup parah. Tembok jebol, lantai pecah dan retak, bahkan pondasi serta tiang penyangga depan dan belakang rumah bergeser lebih dari 20 sentimeter.
Tak hanya satu rumah, setidaknya tiga rumah warga di sekitar lokasi mengalami kerusakan dan berpotensi mengalami kondisi yang lebih parah jika tidak segera ada penanganan.
Hal serupa juga dialami Janarko, warga lain yang rumahnya terdampak pergerakan tanah. Ia menyebut rumahnya terus mengalami retakan, pergeseran, dan ambles hampir setiap hari.
BACA JUGA: Kado Spesial Tahun Baru, Bupati Blora Arief Rohman Masuk Nominasi 10 Kepala Daerah Pro Kebudayaan
Warga berharap pemerintah desa dan instansi terkait segera turun ke lapangan untuk melakukan peninjauan langsung dan kajian teknis.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan penyebab pergerakan tanah sekaligus menentukan penanganan yang tepat agar risiko longsor tidak semakin membesar. (*)
Editor: Farah Nazila













