Kesehatan

Dinas Kesehatan Ajak Masyarakat Waspadai Penyakit Metabolik Saat Kemarau

×

Dinas Kesehatan Ajak Masyarakat Waspadai Penyakit Metabolik Saat Kemarau

Sebarkan artikel ini
Pemkot Semarang Alokasikan Anggaran UHC Rp79 Miliar, Bisa Cover 150 Ribu Jiwa
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam saat diwawancarai awak media. (Ellya/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Kesehatan Kota Semarang mengimbau masyarakat waspada terhadap penyakit metabolik kerap muncul saat musim kemarau.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam mengatakan, penyakit metabolik pada saat musim kemarau saat ini kembali meningkat. Terlebih saat ini kondisi cuaca di Kota Semarang terbilang sangat terik.

“Sebenarnya sudah satu bulan ini penyakit metabolik mulai mencuat. Tepatnya satu minggu habis Lebaran,” kata Hakam.

Hakam menjelaskan, penyakit metabolik adalah sekumpulan kondisi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Meliputi kadar gula darah dan tekanan darah tinggi, kenaikan kadar kolesterol, serta lemak berlebihan di sekitar pinggang.

Ia mengatakan, penyakit metabolik ini rawan muncul saat cuaca terik. Terlebih pada orang yang memiliki risiko kencing manis dan darah tinggi. Pasalnya, dapat menyebabkan berbagai penyakit seperti jantung koroner dan stroke.

Untuk menghadapi penyakit-penyakit tersebut adalah dengan menjaga pola hidup. Misalnya, pada musim kemarau yang terik ini sebisa mungkin hindari mengkonsumsi minuman manis dan dingin seperti es teh maupun es sirup. Pasalnya, jika konsumsi minuman tersebut tidak di kontrol maka akan mengganggu kesehatan tubuh karena kadar gula darah tinggi.

“Ini kalau tidak bisa di kendalikan, kadar gula darah tinggi. Kadar gula darah tinggi pasti akan mengakibatkan koma diabetikum atau HONK (Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik). Pembuluh darah kental sekali,” paparnya.

Hakam menambahkan, banyak beraktivitas di terik matahari juga berisiko. Terlebih bagi orang memiliki riwayat diabetes melitus (DM), hipertensi, dan jantung koroner sehingga harus berhati-hati.

“Sekarang ini suhu udara panasnya berapa? Kita ini normal mentok di 32 derajat Celcius sudah panas. Makanya, harus hindari, misalnya pakai payung, topi, dan sebagainya,” jelasnya.

Meski demikian, Hakam menyebut aktivitas fisik di luar ruangan tidak harus berhenti. Tetapi harus bisa atur sedemikian rupa agar menghindari paparan sinar matahari dan tetap bisa menjaga kesehatan. (*)

Editor: Elly Amaliyah