Gaya Hidup

Fenomena Masyarakat “Makan Tabungan” Kian Tinggi, Alarm Ekonomi di Ujung 2024?

×

Fenomena Masyarakat “Makan Tabungan” Kian Tinggi, Alarm Ekonomi di Ujung 2024?

Sebarkan artikel ini
Pengamat Ekonomi Udinus, Nanda Adhi Purusa
Pengamat Ekonomi Udinus, Nanda Adhi Purusa. (Dokumentasi Pribadi)

SEMARANG, beritajateng.tv – Belakangan, fenomena ‘makan tabungan’ kembali ramai di masyarakat. Banyak orang yang kini terpaksa menggunakan tabungannya guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berdasarkan Data Bank Indonesia per Juli 2024 lalu, rata-rata tabungan rumah tangga tiap rekening bank senilai Rp4,28 juta. Angka tersebut mengalami penurunan dari periode sama tahun sebelumnya sebesar 6,3 persen.

Pengamat Ekonomi Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Nanda Adhi Purusa membenarkan adanya tingkat tabungan masyarakat. Menurutnya, hal itu terjadi sebagai lanjutan dari adanya penurunan daya beli masyarakat. Terutama kelas menengah ke bawah.

Ia menyebut, fenomena makan tabungan membuat tergerusnya tingkat tabungan masyarakat. Artinya, masyarakat mulai membelanjakan uang di tabungan mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

“Hal ini menunjukkan adanya tekanan yang cukup kuat pada kemampuan konsumsi rumah tangga,” ujar Nanda kepada beritajateng.tv, Kamis, 10 Oktober 2024.

BACA JUGA: Fenomena Doom Spending Kalangan Gen Z, Pakar Ekonomi Undip Ingatkan Soal Krisis Moneter 98

Fenomena makan tabungan: proporsi masyarakat kelas menengah kebawah yang kian menurun

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Udinus itu mengungkapkan, penurunan daya beli masyarakat, memang semakin terasa belakangan ini. Terutama bagi masyarakat yang berada di kelas menengah ke bawah.

Selain fenomena makan tabungan, kata Nanda, kelas menengah juga mengalami penurunan proporsi yang cukup signifikan.

Ia merincikan, proporsi kelas menengah pada 2019 berada di angka 21,45 persen. Namun, pada 2024, angka tersebut menyusut menjadi 17,13 persen.

“Di sisi lain, jumlah penduduk rentan miskin justru meningkat dari 20,56 persen pada 2019 menjadi 24,23 persen tahun ini. Kondisi ini harus segera diantisipasi. Kalau tidak dampaknya bisa semakin buruk terhadap perekonomian secara keseluruhan,” tegasnya.

Transisi pemerintah dan Pilkada serentak jadi kunci penentu ekonomi Indonesia kedepan

Lebih lanjut, Nanda menggarisbawahi, stabilitas sosial politik akan menjadi faktor penentu kedepan. Apalagi di tengah transisi pergantian pemerintahan dan juga Pilkada serentak.