Acara ini juga dihadiri oleh beberapa pejabat daerah, salah satunya Sekretraris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Samsul Bahri Siregar. Ia menilai festival ini menjadi angin segar di tengah dominasi budaya populer saat ini.
“Gambang Semarang hampir dilupakan di era K-Pop dan budaya barat, tapi lewat festival ini justru dikenalkan kembali,” tutur Samsul.
Dengan dukungan masyarakat dan harapan agar menjadi agenda budaya tahunan, Festival Bubak menjadi simbol bahwa kearifan lokal bukan untuk dilupakan, melainkan untuk dibuka kembali sebagai jalan membangun identitas dan masa depan kota.
“Festival Bubak ini luar biasa untuk Semarang. Tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tapi juga menyajikan sejarah dan budaya lokal secara melingkar. Semoga ini tidak berhenti di sini, tapi bisa jadi agenda tahunan,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





