SEMARANG, beritajateng.tv – Cuaca ekstrem yang melanda perairan utara Jawa sejak pertengahan Desember 2025 tidak hanya berdampak pada menurunnya hasil tangkapan, tetapi juga mengancam keselamatan nelayan Tambakrejo, Kota Semarang. Gelombang laut setinggi hingga 2–3 meter membuat aktivitas melaut menjadi berisiko tinggi.
Salah seorang nelayan Tambakrejo, Imam Mahmud Harianto, telah menekuni profesi sebagai nelayan kerang hijau sejak 2014. Setiap hari, aktivitasnya mulai sejak subuh dengan melakukan berbagai persiapan sebelum melaut. Ia menyiapkan perlengkapan kerja seperti kaus tangan, sepatu, dan jaring untuk mencari kerang hijau di laut.
Imam bertolak dari dermaga menuju lokasi pencarian kerang hijau pada pukul 06.00 WIB. Jarak lokasi melaut sekitar 100 meter dari dermaga, dengan waktu tempuh kurang lebih 15 menit menggunakan perahu kecil. Setibanya di lokasi, Imam menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk mencari dan mengumpulkan kerang hijau.
BACA JUGA: Cuaca Ekstrem, Pendapatan Nelayan Tambakrejo Anjlok
Sekitar pukul 08.00 WIB, Imam kembali ke daratan membawa hasil tangkapan. Sesampainya di darat, ia langsung menuju koperasi untuk membersihkan kerang hijau hasil tangkapan sebelum dijual. Proses pembersihan menjadi tahap penting agar kerang layak dipasarkan.
Setelah dibersihkan, kerang hijau tersebut kemudian dijual ke pasar melalui koperasi. Seluruh rangkaian aktivitas melaut hingga penjualan biasanya selesai pada pukul 10.00 hingga 11.00 WIB, sebelum Imam kembali ke rumah.
Rutinitas ini telah dijalani Imam selama bertahun-tahun, meski dalam beberapa waktu terakhir sering terganggu akibat cuaca ekstrem dan gelombang tinggi yang membahayakan keselamatan nelayan.
Cuaca Ekstrem Bisa Rusak Alat Nelayan Tambakrejo
Menurutnya, gelombang tinggi membuat nelayan kesulitan menjaga keseimbangan saat bekerja di laut. Selain itu, gesekan dengan tiram dan biota laut lain kerap menyebabkan luka pada tubuh nelayan.
“Kalau cuaca ekstrem gelombangnya besar, ombak sampai menggerus dasar laut. Badan itu bisa luka-luka semua,” ujar Imam saat beritajateng.tv temui di rumahnya pada Rabu, 7 Januari 2026 malam.
Cuaca ekstrem juga berdampak pada kerusakan alat dan sarana nelayan. Imam menyebut bambu penyangga kerang hijau yang dipasang di laut banyak yang rusak dan ambrol akibat dihantam gelombang besar.
“Bambu-bambu banyak yang ambrol kena ombak. Kerang juga banyak yang keseret ombak, jadi hasilnya sedikit,” jelasnya.
Imam menuturkan, gelombang laut yang tinggi memaksa nelayan untuk lebih selektif menentukan waktu melaut. Dalam sepekan, nelayan hanya bisa melaut tiga hingga empat hari, tergantung kondisi cuaca.
BACA JUGA: Kisah Tambakrejo Semarang, Dari Kampung Tambak Tergerus Abrasi Menjadi Desa Mangrove Mandiri
Bahkan, pada kondisi cuaca ekstrem tertentu, nelayan bisa berhenti melaut dalam waktu lama demi menghindari risiko kecelakaan. Imam mengaku pernah mengalami kondisi terburuk pada 2024, ketika nelayan tidak bisa melaut hingga dua bulan.
“Waktu itu gelombangnya kencang sekali, benar-benar ekstrem. Demi keselamatan, nelayan memilih enggak melaut,” ungkapnya.
Nelayan juga berharap adanya perhatian dari pemerintah setempat untuk meningkatkan perlindungan dan keselamatan kerja di tengah cuaca laut yang semakin tidak menentu.
“Harapanya, pemerintah lebih memperhatikan nelayan lah. Kalau nelayan enggak bisa melaut kan kasihan anak istri,” katanya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





