SEMARANG, beritajateng.tv – Pemerintah Kota Semarang memperluas jangkauan penerima bisyaroh bagi para penggerak keagamaan dan layanan sosial.
Di bawah kepemimpinan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, jumlah penerima insentif pada 2026 meningkat signifikan menjadi 9.992 orang, naik dari 6.572 penerima pada tahun sebelumnya.
Kebijakan tersebut menjadi bentuk apresiasi pemerintah terhadap para modin, guru mengaji, guru Madrasah Diniyah (Madin). Guru Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ), guru Raudhatul Athfal (RA). Hingga petugas kemakmuran masjid (marbot) yang selama ini berperan menjaga kehidupan sosial dan keagamaan di tengah masyarakat.
Agustina mengatakan perhatian kepada para penggerak keagamaan merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk menghadirkan penghargaan bagi mereka yang mengabdi dengan penuh keikhlasan.
“Kami ingin negara hadir melalui Pemerintah Kota Semarang untuk memberikan penghargaan kepada mereka. Yang selama ini mengabdikan diri melayani masyarakat dengan penuh keikhlasan. Peran modin, guru mengaji, guru madrasah, marbot, dan seluruh penggerak keagamaan sangat besar dalam menjaga harmoni sosial dan membangun karakter masyarakat. Sudah selayaknya mereka mendapatkan perhatian,” ujar Agustina, Selasa, 7 Juli 2026.
Peningkatan penerima bisyaroh terjadi di berbagai kelompok. Jumlah guru Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) bertambah dari 3.000 menjadi 4.000 orang.
Guru Madrasah Diniyah meningkat dari 1.000 menjadi 1.390 orang. Sementara penerima dari kalangan petugas kemakmuran masjid bertambah dari 531 menjadi 885 orang dan targetnya mencapai 1.000 penerima pada 2027.
BACA JUGA: Viral Jukir Tarik Parkir Rp10.000 Tanpa Karcis di Simpang Lima, Dishub Ancam Cabut Izin Jika Terulang
Pada tahun ini, Pemerintah Kota Semarang juga mulai memberikan bisyaroh kepada guru Raudhatul Athfal (RA) yang tergabung dalam Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA). Sebanyak 320 guru RA untuk pertama kalinya menerima insentif dari pemerintah daerah.
Khusus bagi para modin, Pemerintah Kota Semarang memberikan bisyaroh sebesar Rp1 juta setiap bulan yang penyalurannya secara triwulanan.
Komitmen tersebut kembali Agustina saat menghadiri pengukuhan Pengurus Paguyuban Pengurus Jenazah Semarang (P2JS)/Modin Kota Semarang periode 2026–2031. Sekaligus membuka Pelatihan Pemulasaraan Jenazah bagi modin se-Kota Semarang di Rumah Dinas Wali Kota Semarang.
Dalam kegiatan itu, sebanyak 18 pengurus P2JS periode 2026–2031 yang di ketuai Widodo Lestari, S.Ag., resmi dikukuhkan.
Sementara pelatihan pemulasaraan jenazah berjalan secara bertahap selama dua hari agar dapat melibatkan seluruh 1.000 modin di Kota Semarang.
Di hadapan para peserta, Agustina menegaskan seluruh modin di Kota Semarang harus memperoleh bisyaroh sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian mereka kepada masyarakat.
“Saya berkomitmen bahwa semua modin harus dapat bisyaroh ini. Mereka menjalankan tugas kemanusiaan yang sangat mulia, hadir mendampingi warga di saat-saat paling sulit. Pemerintah Kota harus memberikan dukungan dan penghargaan yang layak atas pengabdian tersebut,” tegasnya.
Menurut Agustina, tugas modin tidak hanya sebatas mengurus pemulasaraan jenazah, tetapi juga memberikan pendampingan moral dan spiritual kepada keluarga yang sedang berduka. Peran tersebut menurutnya menjadi bagian penting dalam memperkuat pelayanan sosial di lingkungan masyarakat. (*)
Editor: Elly Amaliyah





