Viral

Hanung Bramantyo Bongkar Soal Dugaan Pemerintah Terlibat di Film Merah Putih: One For All

×

Hanung Bramantyo Bongkar Soal Dugaan Pemerintah Terlibat di Film Merah Putih: One For All

Sebarkan artikel ini
hanung bramantyo
Hanung Bramantyo dalam podcast Kasisolusi. (YouTube/Kasisolusi)

SEMARANG, beritajateng.tv – Film animasi Merah Putih: One For All yang viral dan disebut menghabiskan dana hingga Rp6,7 miliar menuai berbagai spekulasi publik. Salah satunya adalah dugaan bahwa pemerintah berada di balik produksi film tersebut.

Sutradara ternama Indonesia, Hanung Bramantyo, angkat bicara mengenai isu ini saat hadir di podcast Kasisolusi. Hanung menegaskan, tudingan pemerintah sebagai penyelenggara atau pendukung film tersebut kemungkinan besar hanya asumsi dari warganet.

“Kalau memang bukan penyelenggaranya pemerintah, ya jangan dipaksakan. Saya tidak tahu soal ini. Sepertinya kata-kata pemerintah terlibat itu muncul dari netizen,” ujar Hanung.

BACA JUGA: Film Viral The Substance, Pembantaian Emosional Menopause yang Gila 

Menurutnya, dugaan itu muncul karena publik heran film yang disebut dibuat dalam waktu dua bulan sebelum 17 Agustus bisa mendapat tanggal tayang cepat di bioskop, meski kualitasnya menuai kritik.

Ungkap Mekanisme Dapat Jadwal Tayang di Bioskop

Hanung membeberkan bahwa mendapatkan slot tayang film di jaringan bioskop besar seperti XXI, CGV, Cinepolis, atau Platinum umumnya memerlukan proses panjang.

“Kalau mau minta tanggal tayang, biasanya kirim surat dulu. Tiga bulan kemudian baru dapat kabar jadwal. Setelah itu, produser kirim filmnya untuk dicek secara teknis,” jelasnya.

Ia menekankan, bioskop tidak melakukan kurasi kualitas visual atau cerita secara mendalam, melainkan hanya memastikan film memenuhi standar teknis, seperti gambar tidak gelap atau blur, suara tidak pecah, dan tidak ada gangguan teknis lain.

BACA JUGA: Adaptasi dari Kisah Viral di Thread X, Begini Sinopsis Film Rumah Teteh 2025

Namun, Hanung juga mengingatkan bahwa bioskop tetap mempertimbangkan faktor komersial. “Bioskop itu seperti etalase atau warung. Mereka pasti memilih karya yang berpotensi laku di pasaran, karena ada biaya operasional seperti gaji karyawan dan listrik,” ujarnya.

Pernyataan Hanung ini menambah daftar panjang pembahasan publik tentang Merah Putih: One For All, yang sejak awal pemutarannya terus menjadi sorotan karena proses produksi, anggaran besar, dan kualitas yang menuai pro-kontra.