“Awalnya karena saya tidak suka kerja kantoran, tapi saya ingin sambil kerja sambil ngasuh anak. Cari-cari info, salah satu yang bisa dilakukan di rumah adalah ngerajut. Sekarang udah jadi pekerjaan,” katanya.
Kendati demikian, ia mengaku bahwa produk rajut memiliki kelasnya tersendiri. Pembelinya sendiri didominasi oleh ibu-ibu dengan ekonomi kelas menengah keatas.
Menurutnya, hal tersebut lantaran tidak semua orang mengerti seni yang ada pada produk rajut. Baginya, kelebihan produk rajutan adalah proses pembuatannya yang satu persatu sehingga kecil kemungkinan untuk menemukan model yang sama pada orang lain.
“Produk rajut kan handmade, bahkan konsumen bisa request warna, ukuran, motif, otomatis harganya sedikit lebih mahal. Biasanya yang beli memang orang yang ngerti, buatnya butuh waktu butuh kreasi,” imbuhnya.
BACA JUGA: Gadis Kretek Netflix: Bisnis Keluarga Pasca Penjajahan Belanda yang Seru
Saat ini, beberapa produk rajut yang Alifah pasarkan antara lain bros, connector masker, sarung botol, dompet, dompet koin, kantong hp, tas tablet, tas jinjing, taplak meja, hingga tas ransel. Adapun harga yang ia tawarkan mulai dari Rp10 ribu hingga Rp600 ribu.(*)
Editor: Farah Nazila





