Peristiwa

IJTI dan AJI Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Pembacokan Jurnalis di Grobogan

×

IJTI dan AJI Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Pembacokan Jurnalis di Grobogan

Sebarkan artikel ini
Kekerasan Pesantren
Ilustrasi kekerasan. (ant)

SEMARANG, beritajateng.tv – Insiden kekerasan terhadap jurnalis kembali terjadi di Jawa Tengah (Jateng), kali ini menimpa Manik Priyo Prabowo, seorang jurnalis Grobogan yang mengalami pembacokan.

Manik Priyo bekerja sebagai kontributor di MNC Group. Ia enjadi korban pembacokan oleh orang tak di kenal saat perjalanan pulang di Desa Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jumat (15/8/2025) dinihari.

Akibat serangan tersebut, Manik mengalami luka serius di bagian kepala hingga harus menjalani operasi. Saat ini kondisinya berangsur pulih dan ia masih menjalani perawatan intensif di rumahnya.

Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Jateng, Teguh Hadi Prayitno, menyatakan keprihatinan sekaligus mengecam keras tindakan pembacokan jurnalis Grobogan itu.

Dia menegaskan bahwa kekerasan terhadap jurnalis adalah tindak kriminal yang tidak bisa ditoleransi.

BACA JUGA: Jateng Darurat Kebebasan Pers, Jurnalis Semarang Turun ke Jalan Ikut Aksi Kamisan: Lawan Intimidasi!

“Kami mendesak aparat kepolisian untuk mengusut tuntas peristiwa ini dengan menangkap segera pelakunya, mengungkap motifnya dan membawa siapapun yang terlibat ke ruang pengadilan untuk mendapat hukuman setimpal,” tegas Teguh.

Menurut Teguh, setiap warga negara berhak dilindungi dari aksi kriminal semacam ini. Dia pun mengutuk keras tindakan pelaku kekerasan terhadap jurnalis.

Senada, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Semarang, Aris Mulyawan. Peristiwa pembacokan tersebut tidak hanya membahayakan nyawa, tetapi juga mengancam kebebasan pers di Indonesia.

“Kekerasan yang rekan jurnalis Manik alami tidak bisa kita anggap sebagai peristiwa biasa. Aparat harus segera mengusut tuntas kasus ini,” imbuh Aris.

AJI Kota Semarang menilai jika kasus kekerasan terhadap jurnalis seperti ini ada pembiaran. Maka khawatirnya akan menciptakan rasa takut di kalangan pewarta.

“Jika serangan seperti ini kita biarkan, jurnalis akan takut meliput isu-isu penting. Terutama yang bersinggungan dengan kepentingan publik dan korporasi besar,” terangnya.

Manik sendiri sempat menjalani operasi setelah mengalami luka bacok sebanyak dua kali di bagian kepala. Setelah kondisi kesehatannya membaik, dia di perbolehkan pulang untuk menjalani pemulihan.

Meski demikian, Manik masih merasakan sakit pada saraf kepala dan belum bisa banyak menjawab sejumlah pertanyaan.

“Kasus ini saya pasrahkan kepada Polri yang sudah profesional menangani perkara tipe atau golongan seperti ini,” ungkap Manik singkat.

Sementara itu, pihak keluarga mengaku masih terkejut dengan kejadian yang menimpa Manik.

Felek Wahyu Prabowo sebagai kakak korban, menyampaikan bahwa adiknya belum lama kembali dari penugasan di Surabaya.

“Sudah hampir sebulan nggak liputan pasca dari Surabaya. Terakhir liputan itu demo petani Sugihmanik yang minta akses jalan pertanian ke komplek industri,” terangnya.

Meski begitu, Felek enggan berspekulasi apakah insiden yang menimpa adiknya berkaitan dengan liputan jurnalistik atau tidak. “Saya tidak berani berpendapat, karena pelakunya belum tertangkap,” tukasnya. (*)

Editor: Elly Amaliyah

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp