SEMARANG, beritajateng.tv – Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Muhamad Mardiono, menilai keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace merupakan langkah strategis dan tepat sebagai upaya menghentikan konflik berkepanjangan di Palestina.
Mardiono menyebut, perang yang berlangsung selama bertahun-tahun tersebut telah menelan korban jiwa dalam jumlah besar, termasuk anak-anak dan perempuan yang tidak berdosa. Menurutnya, pendekatan yang hanya dilakukan dari luar tidak cukup efektif untuk menghentikan kekerasan.
“Perjalanan perang ini sudah lama dan korbannya tidak kecil, termasuk anak-anak dan ibu-ibu yang tidak berdosa. Kalau hanya berjuang dari luar dengan menyuarakan atau bantuan lain, itu tidak akan menyelesaikan masalah,” kata Mardiono usai pembukaan Muyawarah Wilayah (IX) di Jotel Patra Semarang& Convention pada Sabtu, 7 Februari 2026.
Ia menegaskan, Indonesia sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif tidak mungkin terlibat dalam konflik bersenjata. Karena itu, jalur diplomasi dari dalam forum internasional menjadi pilihan paling rasional dan bermartabat.
BACA JUGA: Tanggapi Isu Munculnya Partai Gajah pada Pemilu 2029, Mardiono: PPP Tak Gentar, Justru Makin Kuat
“Oleh karena itu kita masuk dari dalam. Tujuannya agar perjuangan kita lebih dekat, bisa berkomunikasi secara politik untuk memproteksi Palestina agar segera menjadi rakyat yang berdaulat, merdeka, dan tidak lagi terancam keselamatannya,” ujarnya.
Mardiono mengakui adanya sebagian kalangan umat Muslim yang merasa kecewa terhadap kebijakan pemerintah. Namun, ia menilai hal tersebut menjadi tanggung jawab para politisi dan aparatur negara untuk memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat.
Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto telah melakukan langkah-langkah komunikasi dengan berbagai elemen bangsa, mulai dari organisasi kemasyarakatan Islam, para rektor, hingga tokoh masyarakat.
“Itulah tugas politisi dan pemerintah, menjelaskan apa sebenarnya yang menjadi keinginan Indonesia. Presiden sudah mengumpulkan ormas Islam, rektor, dan tokoh masyarakat untuk menyampaikan pesan-pesan itu,” jelasnya.




