SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah mengungkap penyebab terjadinya peristiwa tanah bergerak di Desa Padasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, yang terjadi sejak Senin malam, 2 Februari 2026.
Kepala Dinas ESDM Jawa Tengah, Agus Sugiharto, menjelaskan, berdasarkan hasil investigasi dan kajian awal di lapangan, peristiwa tersebut masuk dalam kategori creeping atau rayapan tanah.
“Kalau yang di Tegal itu, dari sisi geologi, hasil investigasi dan kajian teman-teman memang creeping. Jadi lapisan tanahnya jenisnya lempung atau clay, kemudian kena air dia merayap. Pelan-pelan geraknya. Itu salah satu jenis gerakan tanah,” ujar Agus saat beritajateng.tv jumpai di Kota Semarang, Senin, 9 Februari 2026.
Agus menjelaskan, creeping merupakan gerakan tanah yang berlangsung lambat namun terjadi secara terus-menerus. Jenis gerakan tanah ini umumnya terjadi di wilayah yang memiliki kemiringan lereng dan didominasi material lempung.
“Rayapan ini wilayahnya biasanya luas dan ada kemiringan. Ada kemiringan lereng sehingga litologinya itu bergerak. Geraknya memang tidak cepat, tapi terus-menerus,” jelasnya.
BACA JUGA: Tanah Bergerak di Kampung Sekip Semarang, Rumah Warga Geser dan Roboh Usai Hujan Deras
Ia menambahkan, fenomena serupa juga pernah terjadi di sejumlah daerah lain di Jawa Tengah.
“Ini sama dengan yang di Watukumpul, itu masuk Pemalang. Di Boyolali, di Simo, itu juga rayapan. Jadi memang ada beberapa daerah di Jawa Tengah yang memiliki gerakan tanah rayapan,” kata Agus.
Agus menegaskan creeping dan likuifaksi merupakan fenomena yang berbeda. “Beda. Kalau likuifaksi itu kan seperti mengembang. Itu terjadi karena pergerakan struktur dan kadar air, dan tidak perlu kemiringan. Di wilayah datar pun likuifaksi bisa terjadi,” terangnya.
Sementara itu, creeping atau rayapan tanah, lanjut Agus, mensyaratkan adanya kemiringan lereng. “Kalau creeping itu pasti punya kemiringan, mesti ada tebing. Geraknya pelan, alon-alon, tapi lama-lama tergeser, tergeser, tergeser,” ujarnya.
Agus menekankan, karakter gerakan tanah seperti ini sering kali luput dari perhatian karena tidak terjadi secara tiba-tiba, namun dampaknya bisa merusak secara permanen.
Sejumlah Infrastruktur di Padasari Tegal Alami Kerusakan Serius Imbas Tanah Bergerak
Akibat peristiwa tanah bergerak di Desa Padasari, Agus mengungkap sejumlah infrastruktur mengalami kerusakan serius.
“Selama ini hujan terus, kejadiannya masih berjalan. Jembatan yang awalnya hanya miring sedikit, sekarang sudah ambrol dan tidak bisa dipakai sama sekali,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Agus juga menyebutkan laporan dari tim di lapangan menunjukkan kerusakan berat pada struktur bangunan.
“Bahkan jembatan besi yang besar itu pondasinya sudah lari, sudah bergeser. Jalan juga sudah tidak bisa dipakai,” jelas Agus.
BACA JUGA: Minim Resapan Air, Tanah Longsor Terjadi 55 Kali di Semarang Sejak Januari 2026
Dinas ESDM memastikan pemerintah telah menyiapkan langkah penanganan bagi warga yang rumahnya tidak lagi memungkinkan untuk dihuni.
“Pemerintah sudah memberikan solusi bagi masyarakat yang tempat tinggalnya tidak mungkin dihuni lagi. Itu sudah dicarikan lokasi di dua lokasi tanah milik Perhutani,” ujar Agus.
Saat ini, lanjut dia, tim ESDM tengah melakukan kajian mendalam di lokasi relokasi yang direncanakan.
“Hari ini kami kirimkan tim untuk melakukan kajian secara detail, menyeluruh, dan teliti untuk memastikan lokasi yang dicadangkan untuk hunian tetap warga itu betul-betul aman dan tidak terjadi bencana di tempat relokasi yang baru,” tegasnya.
Sejumlah Wilayah di Kota Semarang Terancam Alami Tanah Geser, Ada Gombel dan Manyaran
Selain Kabupaten Tegal, Boyolali, dan Pemalang, Agus menyebut sejumlah wilayah di Kota Semarang juga memiliki potensi gerakan tanah rayapan akibat karakter tanahnya.
“Di Semarang itu, sekitar Jalan Dewi Sartika naik sedikit, itu creeping juga. Potensinya rayapan karena lempungnya tebal dan ada kemiringan,” jelas Agus.
Ia juga menyebut kawasan perbukitan di Semarang Barat dan Semarang Selatan.
“Daerah arah Manyaran ke atas, sekitar Kali Pancur, itu juga creeping. Termasuk yang di Gombel, di atas lapangan golf itu juga creeping. Tanahnya clay,” kata Agus.
Menurutnya, kerusakan di wilayah-wilayah tersebut umumnya terjadi secara bertahap. “Pecahnya pelan-pelan. Tapi lama-lama tergeser,” imbuhnya.
Lebih jauh, Agus menegaskan wilayah dengan potensi gerakan tanah seharusnya dihindari untuk permukiman. Namun, ia memahami tidak semua masyarakat mengetahui karakter geologi wilayah tempat tinggalnya.
BACA JUGA: Tanah Longsor Landa Sejumlah Titik Selama Dua Hari, Warga Kaligawe Kian Was-was
“Kalau kita tahu ada potensi bencana, ya harus dihindari. Tapi kan tidak semua memahami bahwa di situ ada potensi. Selama tidak ada pemicunya, itu terlihat tidak masalah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, air menjadi salah satu pemicu utama terjadinya rayapan tanah, terutama bila diperparah oleh sistem drainase yang tidak baik.
“Pemicunya salah satunya air. Kemudian budidaya kita, caranya membuat saluran atau drainase yang tidak benar, sehingga air masuk ke dalam tanah dan menambah massa tanah,” papar Agus.
Agus menjelaskan secara teknis sifat tanah lempung yang rawan mengalami gerakan. Berbeda dengan tanah pasir, lanjut Agus, yang relatif lebih stabil terhadap air.
“Lempung itu kemampuan menyerap airnya tinggi, tapi melepaskan airnya sulit. Dia impermeable. Porositasnya ada, tapi airnya tidak mau keluar. Kalau pasir, air masuk gampang dan keluar gampang. Kalau lempung, dia menyerap tapi tidak mau melepas. Jadi seperti bubur,” ujar dia.
Kondisi tersebut menyebabkan daya ikat antarbutir tanah melemah ketika massa air bertambah. “Kalau massa airnya bertambah, daya ikat antarbutir berkurang. Maka tanah jadi lemah dan bergerak,” pungkas Agus. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





