SEMARANG, beritajateng.tv – Saat ini, gelar Sarjana Pendidikan saja tidak cukup sebagai modal dalam menjadi guru profesional di era pendidikan 4.0. Diperlukan sertifikat profesi guru sebagai bukti bahwa mereka telah memiliki kompetensi yang cukup untuk menjadi seorang pengajar.
Salah satu cara untuk mendapat sertifikat adalah dengan mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan. Seperti yang dilakukan oleh Fransiska Nita Purwaningsih.
Guru Agama Katolik dari SMPN 8 Surakarta itu bahkan berhasil meraih IPK sempurna, yaitu 4,00 saat menyelesaikan PPG Dalam Jabatan di Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik (STPKat) Santo (St.) Fransiskus Asisi Semarang. Hebatnya, prestasi itu Nita peroleh di tengah-tengah kesibukannya sebagai pendidik, istri, serta ibu bagi anak-anaknya.
Nita mengatakan, untuk memperoleh IPK 4,00, ia menjalani perjuangan dan kerja keras selama empat bulan pendidikan. Ia menyebut, kunci keberhasilannya terletak pada fokus dan teliti dalam mengerjakan tugas.
“Dapat IPK 4,00 itu dengan penuh perjuangan, karena kita bagi dengan kerja dan keluarga. Tapi saya berusaha mengerjakan segala tugas-tugas dan target itu dengan semaksimal mungkin,” ungkap Nita kepada beritajateng.tv seusai Yudisium dan Pengukuhan, Sabtu, 20 Januari 2024.
Salah satu resep dalam meraih nilai sempurna, lanjutnya, adalah mengikuti seluruh pembelajaran dengan fokus dan tidak sambil melakukan kegiatan lain. Menurutnya, hal tersebut tidaklah mudah lantaran semua mahasiswa PPG pasti memiliki kesibukan sebagai seorang guru.
Oleh karenanya, memang perlu adanya komitmen yang tinggi serta kemauan keras dalam memprioritaskan pendidikan.
“Bahasa Jawanya, tidak nyambi dengan kegiatan lain, berusaha fokus, itu menjadi suatu bekal saya pribadi untuk bisa mendapatkan nilai maksimal,” tambahnya.
Tidak hanya itu, Nita juga mengungkapkan pentingnya berani bertanya ketika mengalami kesulitan. Terutama kepada sesama mahasiswa PPG STPKat St. Fransiskus Asisi Semarang yang berasal dari seluruh wilayah Indonesia.
“Terkadang kita tidak mengenal daerah lain, tapi kita berusaha untuk bertanya kepada teman yang mungkin lebih bisa menjelaskan. Selain itu, membaca modul juga sangat penting, pelajari ketika ada sesuatu yang membuat kita tidak tahu, tanya pada dosen atau teman yang sudah tahu,” tambahnya.
Sempat kena protes suami
Nita juga menggarisbawahi pentingnya dukungan dari keluarga. Menjadi mahasiswa PPG sontak membuat fokusnya terbagi. Tak heran jika kemudian beberapa pekerjaan rumah menjadi terbengkalai.
Beruntung, keluarga Nita tak begitu mempermasalahkan hal tersebut. Hanya saja, sang suami memang pernah menyampaikan keberatan dengan kesibukan Nita sebagai mahasiswa PPG.
“Ada beberapa kegiatan yang tersita terutama keluarga, juga suami protes kok di depan laptop terus. Tapi ya akhirnya dengan penjelasan sebaik mungkin dan rayuan segombal mungkin suami bisa mengerti,” kekehnya.
Terlepas dari segala perjuangan dan pengorbanan yang ia lalui, Nita kini berkomitmen untuk terus memberikan pendidikan yang terbaik bagi siswanya. Apalagi, berbekal IPK sempurna, membuktikan semangat dan dedikasi Nita dalam menjadi seorang pendidik.
BACA JUGA: Siswa SMKN 10 Semarang Pamerkan Karya, dari Miniatur Kapal hingga Game Canggih
“Pastinya harus menjadi lebih baik lagi dalam bekerja terutama memberikan ilmu ke anak-anak sebagai generasi penerus bangsa, yang paling penting, selalu memberikan ilmu dengan kasih,” pungkasnya.(*)
Editor: Farah Nazila





