Alasannya, kata dia, piagam kejuaraan marching band tingkat internasional itu tak boleh lagi menjadi bahan penilaian.
Bahkan, Haerudin membenarkan jika 69 siswa itu berpotensi tereleminasi akibat adanya pengurangan poin.
“Yang dianulir kan nilai sertifikatnya. Kalau tidak salah sertifikat itu poinnya 3. Itu kan sistem tinggal menggondok itu saja. Mereka terancam tereleminasi dari sekolah itu karena dikurangi 3 poin,” beber Haerudin.
BACA JUGA: Gunakan Piagam Palsu, Masihkah 69 Siswa SMPN 1 Semarang Berpeluang Lolos PPDB?
Isak tangis orang tua ramaikan audiensi, Haerudin sebut wajar, ‘Namanya juga orang tua’
Dalam audiensi tersebut, Haerudin pun mengakui ada isak tangis orang tua/wali yang harap-harap cemas dengan nasib anaknya.
“Ya wajarlah namanya anak kan wajar. Karena saya juga orang tua, saya bisa memahami,” ucap Haerudin.
Oleh sebabnya, Haerudin menghargai setiap masukkan orang tua/wali. Kendati begitu, kejujuran dan integritas harus tetap nomor satu.
“Integritas, kejujuran harus kita junjung tinggi. Maaf loh, kalau kita biarkan praktik tidak berintegritas, kan itu merusak karakter anak-anak juga,” tandasnya. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





