HeadlineJateng

Jadi Destinasi Alternatif, Ketua Komisi B DPRD Jateng Ungkap Kelemahan Desa Wisata

×

Jadi Destinasi Alternatif, Ketua Komisi B DPRD Jateng Ungkap Kelemahan Desa Wisata

Sebarkan artikel ini
desa wisata
Ketua Komisi B DPRD Jateng Sumanto. (ricky fitriyanto/beritajateng.tv)

SOLO, beritajateng.tv – Pengembangan desa wisata Jawa Tengah tak terlepas dari berbagai permasalahan di lapangan. Ketua Komisi B DPRD Jateng Sumanto menilai, kelemahan desa wisata salah satunya ialah tidak ada rancangan pengelolaan.

Menurut Sumanto, masyarakat Jateng memiliki tabiat ‘melu-melu’ atau ikut-ikutan. Hal itu menjadi permasalahan, terutama dalam menggali potensi dari sebuah desa wisata.

“Perlu ada beberapa catatan, karena desa wisata itu harus melihat potensinya. Kecenderungan kita itu melu-melu, misalnya desa wisata A punya kolam renang, terus nanti desa lain juga buat kolam renang, padahal potensinya bukan itu,” kata Ketua Komisi B DPRD Jateng Sumanto.

BACA JUGA: Seni Karawitan jadi Daya Tarik di Desa Wisata Lerep

Sumanto mengungkapkan hal itu dalam dialog Aspirasi Jawa Tengah “Pariwisata Jawa Tengah Menghadapi Lebaran” yang disiarkan dari studio TATV, Solo, belum lama ini.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Komisi B DPRD Jateng Sumanto mengaku terus melakukan sosialiasi ke desa-desa wisata untuk membantu warga menggali potensi yang ada

“Kalau tidak ada potensi jangan buat desa wisata, bisa kembangin hal lain seperti UMKM, kuliner, dan lain-lain,” tandasnya dalam dialog yang dipandu Host Nurkholis dan Co Host Okfied Sosendar tersebut.

Desa wisata dengan kategori maju di Jawa Tengah bisa mendapatkan bantuan hingga Rp 1 miliar. Komisi B DPRD Jateng menganggap hal tersebut merupakan bentuk support bagi desa wisata.

BACA JUGA: Desa Wisata Kampung Samin Sambongrejo Juara 3 Ajang Gelar Desa Wisata Jateng

Untuk kategori lainnya yakni desa wisata rintisan mendapat bantuan yang lebih sedikit yakni Rp 100 juta. Sementara desa wisata berkembang mendapat bantuan Rp 500 juta. Menurut Sumanto, bantuan Rp 1 miliar kepada desa wisata kategori maju bukan tanpa alasan.

“Kita bantu supaya mereka bisa berkembang. Kenapa yang maju dikasih satu miliar? karena (desa wisata) rintisan kan belum ada apa-apanya, nanti belum bisa membangun,” imbuhnya.

Komisi B DPRD Jateng Sebut Bisa Hasilkan Rp 8 Miliar Setahun

Terlebih, desa wisata harus memiliki potensi yang bisa berkembang. Ia sempat menyebut Karanganyar sebagai salah satu desa wisata kategori maju di Jateng.

“Kalau desa wisata maju, desanya juga ikut maju, seperti Karanganyar yang setahun menghasilkan delapan miliar, Solo bisa lebih besar lagi,” tandas Sumanto.

BACA JUGA: Kesuksesan Desa Wisata Bergantung Kreativitas Pengelola

Hingga saat ini, Provinsi Jateng memiliki 818 desa wisata. Kabid Pemasaran Pariwisata Disporapar Jateng Setyo Irawan mengatakan, Jateng memiliki banyak daya tarik wisata. Ada sekitar 1.235 daya tarik wisata, dan 818 desa wisata.

“Ini potensi cukup besar untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Jawa Tengah,” ujar Setyo.

BACA JUGA: Pelaku Wisata Minta Pemkot Semarang Bantu Pemasaran Desa Wisata

Perihal bantuan dana untuk desa wisata, pihaknya menilai bahwa dukungan finansial tersebut dapat menjadi stimulan bagi desa wisata, terutama desa wisata yang masih dalam kategori rintisan.

“Meskipun desa wisata kategori rintisan mendapat Rp 100 juta, tapi itu tetap support dan desa tersebut sangat berterima kasih, karena itu adalah stimulan, pengaruhnya besar sekali untuk desa yang tergolong rintisan,” papar Setyo. (*)

Editor: Ricky Fitriyanto

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp