SEMARANG, beritajateng.tv – Tidur setelah sahur memang terasa begitu sangat nikmat terlebih lagi makan dengan porsi yang cukup besar.
Hal ini bahkan sudah sering jadi kebiasaan khususnya ketika bulan Ramadan. Namun siapa sangka, ternyata ada pengaruhnya juga loh bagi kesehatan tubuh.
Kali ini beritajateng.tv akan bagikan bagaimana dampak dari tidur setelah sahur. Dengan begitu, berharap kamu bisa secara perlahan mengubah kebiasaan tersebut supaya hidup lebih sehat.
BACA JUGA: Jenis Buah Berikut Sering Jadi Menu Takjil Buka Puasa, Ternyata Ini Pengaruhnya Bagi Kesehatan
Dampak Buruk Tidur Setelah Sahur
Heartburn
Heartburn merupakan rasa panas atau terbakar di area dada hingga tenggorokan yang terjadi akibat asam lambung naik. Kondisi ini dapat terjadi lantaran kebiasaan langsung tidur setelah sahur selama bulan Ramadan.
Saat seseorang segera berbaring usai makan, proses pencernaan menjadi terhambat karena makanan sulit bergerak turun ke lambung dengan optimal.
Akibatnya, makanan dan asam lambung berisiko kembali naik ke kerongkongan dan menyebabkan iritasi pada dindingnya.
Gerd
Menurut para pakar kesehatan, kebiasaan langsung tidur setelah sahur berisiko memicu gangguan pada saluran pencernaan, seperti nyeri ulu hati dan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).
GERD merupakan kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan sehingga menimbulkan sensasi panas atau terbakar di dada.
Pada kenyataannya, tidur usai sahur dapat menghambat kinerja sistem pencernaan sehingga proses pengolahan makanan tidak berjalan optimal.
Berat Badan Naik
Kebiasaan langsung tidur setelah makan memang dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan dan bukan sekadar mitos. Jika seseorang tidur usai sahur, proses pencernaan bisa melambat.
BACA JUGA: BPJS Kesehatan Ungkap 46 Persen Peserta Mandiri Berstatus Nonaktif
Kalori yang seharusnya diolah dan dibakar tubuh justru berpotensi tersimpan sebagai lemak. Akibatnya, perut terasa penuh dan tampak membesar, sehingga berat badan pun lebih mudah bertambah selama menjalani puasa Ramadan.
Sembelit
Penumpukan sisa makanan di dalam perut yang tidak segera tercerna dapat memicu gangguan pencernaan, seperti sembelit.
Kondisi ini terjadi karena usus menyerap terlalu banyak cairan dari feses, sehingga teksturnya menjadi kering dan keras. Akibatnya, proses pengeluarannya pun terasa lebih sulit dan membutuhkan usaha lebih.
Risiko sembelit saat bulan puasa cenderung meningkat karena asupan cairan tubuh biasanya berkurang dibandingkan hari-hari biasa.





