SEMARANG, beritajateng.tv – Ketua Komunitas Sosial Tionghoa Boen Hian Tong Harjanto Halim mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu mewaspadai politik identitas yang dapat memecah belah bangsa, terutama menjelang Pemilu 2024 mendatang.
Berkaca dari pesta demokrasi tahun 2019, politik identitas kerap menjadi alat oleh para politisi untuk mencari dukungan dan simpati masyarakat untuk memenangkan kursi jabatan.
“Politik identitas itu akan selalu dimainkan oleh siapapun, pergerakannya cepat, dan efeknya besar. Amerika yang sudah seperti itu saja main kok. Kalau gitu pinter-pinteran rakyat saja mengenali politik identitas,” tutur Harjonto usai menghadiri acara Peringatan Tragedi 98, Minggu 21 Mei 2023.
Harjonto juga menyebut tokoh-tokoh dunia seperti Donald Trump yang baginya kerap kali mencontohkan praktik politik tersebut. Ia berharap agar praktik tersebut tak kental terjadi pada kontestasi Pemilu di negeri ini.
“Saya pun dengan sedih mengatakan Trump menang karena politik identitas,” tegasnya.
“White supremacy, imigran Mexico yang dituduh, America number one. Wah itu sangat identitas banget. Jadi hal seperti itu selalu dipakai politisi. Jadi rakyat jangan memilih atas dasar itu,” imbuh Harjonto.
Konflik Politik Identitas
Indonesia tak luput dari sejarah politik identitas, seperti yang pernah terjadi pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta beberapa tahun lalu. Perseturuan antarpendukung dua kubu tersebut berhasil memecah belah bangsa.
Di sisi lain, Harjonto melihat negara Indonesia semakin hari menjadi semakin baik, khususnya dalam menerima keragaman suku, ras, dan agama (SARA). Baginya, terlepas dari perbedaan SARA tersebut, bangsa Indonesia secara garis besar memiliki satu tujuan dan aspirasi yang sama.
Ia juga menyebut Kota Semarang sebagai contoh. Meskipun APBD-nya tak sebesar kota metropolitan lain seperti Jakarta, namun Harjonto bangga sebab kota ini memiliki tingkat toleransi dan kebersamaan yang lebih tinggi.
“Ekonomi di Jakarta lebih tinggi, tapi nyaman atau enggak itu lho. Orang Jakarta selalu bilang Semarang enak ya. Bukan berarti terus kita enggak bangun kota, tapi (toleransi) itu ada nilainya,” papar Harjanto.
“Karena kohesi dan toleransi ke depan akan jauh lebih susah tercapai daripada membangun gedung bertingkat,” tutupnya usai mengakhiri wawancara (*).
Editor: Andi Naga Wulan.





