Pemeriksaan mencakup screening kanker payudara, pemeriksaan leher rahim, foto dada menggunakan X-ray, pemeriksaan darah, hingga konsultasi medis.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dokter bedah, serta dokter radiologi juga terlibat untuk membantu menentukan tindak lanjut hasil pemeriksaan.
“Kita hadirkan juga dokter spesialis, ada dokter obgyn, ada dokter bedah, ada radiologi yang membantu kami di dalam tata laksana selanjutnya,” jelas Hakam.
Puskesmas juga ikut melakukan screening dan pemeriksaan dasar, termasuk pemeriksaan darah serta rapid test sesuai kebutuhan.
Pemeriksaan Gratis Bisa Hemat Biaya Warga
Program screening gratis sekaligus memberikan alternatif bagi masyarakat yang selama ini menunda pemeriksaan karena persoalan biaya.
Hakam mengatakan pemeriksaan kesehatan secara mandiri dapat membutuhkan biaya yang tidak sedikit, terutama untuk pemeriksaan tertentu.
Pemeriksaan gula darah dan kolesterol, misalnya, dapat membutuhkan biaya sekitar Rp50.000. Sementara pemeriksaan leher rahim dan USG payudara membutuhkan biaya lebih besar.
“Rapid test keadaan darah itu, gula, kemudian kolesterol, mungkin sekitar Rp50.000,” katanya.
Untuk pemeriksaan leher rahim, biayanya dapat mencapai lebih dari Rp1 juta. Sementara USG payudara perkiraannya membutuhkan sekitar Rp400.000 hingga Rp500.000.
“Leher rahim tadi itu Rp1 juta lebih. USG payudara paling tidak sekitar Rp400.000 atau Rp500.000,” ujar Hakam.
Bagi Pemkot Semarang, pemeriksaan gratis bukan hanya soal memberikan layanan tanpa biaya. Program tersebut juga menjadi strategi untuk memperluas deteksi penyakit sekaligus mencegah beban kesehatan yang lebih besar di kemudian hari.
Agustina menegaskan pemerintah ingin memastikan masyarakat tidak berhenti pada tahap mengetahui hasil pemeriksaan. Jika menemukan indikasi penyakit, pasien harus mendapatkan tindak lanjut.
“Nanti kalau ada deteksi kita akan follow up supaya yang bersangkutan tetap bisa perawatannya gratis,” ujarnya. (*)





