SEMARANG, beritajateng.tv – Dinas Kesehatan Kota Semarang memastikan temuan kasus campak di wilayahnya bukan berasal dari lonjakan mendadak. Melainkan hasil dari upaya deteksi aktif secara intensif di tingkat kelurahan.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, M. Abdul Hakam, menjelaskan bahwa pihaknya tidak hanya menunggu laporan pasien yang datang ke fasilitas kesehatan. Tetapi juga secara proaktif melakukan penelusuran di masyarakat melalui kegiatan surveillance.
“Kami memang melakukan active case finding. Jadi teman-teman puskesmas tidak hanya menunggu pasien datang, tetapi turun langsung ke wilayah untuk melakukan pengamatan. Dari situ kami menemukan beberapa kasus,” ujar Hakam.
Ia menegaskan, pendekatan ini merupakan bagian dari sistem kewaspadaan dini agar potensi penyebaran penyakit dapat segera dikendalikan sejak awal. Menurutnya, temuan kasus justru menunjukkan sistem pemantauan berjalan efektif.
“Kasus yang kami temukan itu bukan berarti ada lonjakan besar. Tetapi karena kami aktif melakukan pencarian dan pengamatan di lapangan,” jelasnya.
Dalam upaya pencegahan, Dinas Kesehatan terus mendorong masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan serta melengkapi imunisasi, khususnya vaksin campak dan MR.
Hakam menyebut, cakupan vaksinasi menjadi perhatian utama. Setiap pekan, pihaknya memantau wilayah dengan tingkat imunisasi rendah untuk segera dilakukan intervensi.
“Kami pantau rutin setiap minggu. Kalau ada kelurahan dengan cakupan vaksinasi rendah, langsung kami tindak lanjuti bersama lintas sektor,” katanya.
Ia menambahkan, koordinasi dilakukan hingga ke tingkat kelurahan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk tenaga kesehatan, pemerintah wilayah, hingga unsur perlindungan masyarakat.
“Kami libatkan semua pihak, termasuk linmas, agar bisa ikut mendorong masyarakat terutama balita untuk mendapatkan vaksinasi lengkap,” imbuhnya.
Dinas Kesehatan berharap langkah deteksi dini dan peningkatan cakupan imunisasi ini mampu menekan potensi penyebaran campak di Kota Semarang, sekaligus menjaga kesehatan masyarakat secara menyeluruh.
“Yang terpenting adalah pencegahan. Kalau cakupan vaksinasi tinggi, risiko penularan bisa kita tekan,” pungkas Hakam. (*)
Editor: Elly Amaliyah





