Jateng

Kayu Gelondongan Terbawa Banjir Bandang Pemalang-Banyumas, WALHI Jateng: Ada Indikasi Deforestasi

×

Kayu Gelondongan Terbawa Banjir Bandang Pemalang-Banyumas, WALHI Jateng: Ada Indikasi Deforestasi

Sebarkan artikel ini
Kayu Gelondongan Banjir
Sisa gelondongan kayu yang terbawa oleh banjir bandang di Pemalang, Jawa Tengah, Senin, 26 Januari 2026. (Foto: Dok. Pemprov Jawa Tengah)

SEMARANG, beritajateng.tv – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah menilai kemunculan kayu gelondongan dalam banjir bandang yang melanda kawasan kaki Gunung Slamet menjadi indikasi serius adanya persoalan lingkungan di wilayah tersebut.

Banjir bandang dan longsor terjadi di sejumlah daerah, seperti Kabupaten Pemalang, Tegal, Banyumas, dan Purbalingga, pada 23-24 Januari 2026 lalu.

Staff Kajian dan Pengelolaan Pengetahuan WALHI Jawa Tengah, Bagas Kurniawan, mengatakan fenomena banjir yang membawa material kayu seharusnya menjadi peringatan penting bagi pemerintah. Ia membandingkan kejadian di Jawa Tengah dengan bencana serupa yang sebelumnya terjadi di Sumatera.

“Kalau kita kembali ke bencana di Sumatera, sebenarnya itu harusnya jadi pembelajaran penting bagi pemerintah. Karena banyak hal yang baru kita ketahui justru setelah bencana terjadi, termasuk ketika banjir membawa kayu-kayu gelondongan,” kata Bagas saat beritajateng.tv hubungi via panggilan WhatsApp, Selasa, 27 Januari 2026.

BACA JUGA: Viral Gelondongan Kayu di Pemalang dan Tegal Usai Banjir Bandang, BPDB Jateng Belum Tahu Asalnya

Menurut Bagas, kayu gelondongan yang terbawa arus banjir merupakan indikasi adanya aktivitas deforestasi di kawasan hutan, baik yang bersifat legal maupun ilegal.

“Karena banjir membawa gelondongan itu, kita jadi tahu ternyata ada banyak aktivitas deforestasi di tengah-tengah hutan, yang mungkin selama ini tidak kita ketahui,” ujarnya.

Ia menekankan, bencana alam sering kali membuka fakta-fakta ekologis yang sebelumnya luput dari perhatian publik maupun pemerintah.

BMKG Sudah Keluarkan Peringatan Cuaca, Bagas Nilai Mitigasi Pemerintah Lemah

Selain faktor kerusakan lingkungan, Bagas menyoroti aspek cuaca ekstrem yang sebenarnya telah diprediksi sebelumnya. Ia menyebut BMKG telah memberikan peringatan terkait potensi hujan dengan intensitas tinggi, termasuk di wilayah Jawa Tengah.

“Kita juga dapat informasi dari BMKG bahwa intensitas hujan belakangan ini sangat tinggi, terutama di akhir dan awal tahun. Peringatan itu sebenarnya sudah muncul,” ungkapnya.

Kendati begitu, Bagas menilai kesiapan pemerintah dalam mitigasi bencana masih lemah.