BOYOLALI, beritajateng.tv – Perajin genteng di Desa Karangkepoh, Banaran, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, terus berkarya lantaran musim kemarau saat ini justru membawa berkah sebab mereka mampu memproduksi berlipat-lipat daripada saat musim hujan.
Salah satu perajin genteng, Marjo (58), mengatakan, para perajin genteng di Desa Karangkepoh Boyolali akan lebih bersemangat produksi lantaran sejak Juni hingga Oktober ini, bersamaan musim kemarau atau dengan panas matahari, terus membuat genteng berlipat dua kali ketimbang saat musim hujan.
Pasalnya, musim kemarau malah mempercepat proses pengeringan genteng dua kali lipat daripada saat musim penghujan. Alhasil, produksi genteng pada musim kemarau bisa mencapai 10.000 biji per bulan jika dibandingkan saat musim hujan yang hanya mampu memproduksi sekitar 5.000 biji.
BACA JUGA: Dampak Kemarau Tak Kunjung Berhenti, Kabupaten Pati Tetapkan Status Tanggap Darurat Kekeringan
“Musim kemarau produksi genteng lumayan cepat, dua hari sudah kering. Kalau hujan bisa lima sampai enam hari baru kering. Jadi, musim kemarau ini yang diuntungkan perajin genteng,” ujar Marjo, Selasa, 3 Oktober 2023.
Tekuni usaha turun-temurun jadi perajin genteng
Marjo menjelaskan, Desa Karangkepoh merupakan salah satu sentra kerajinan genteng dan batu bata di wilayah Boyolali. Marjo adalah satu dari sekian perajin yang masih menekuni usaha turun-temurun membuat genteng.
Ia bersama sang istri memproduksi genteng semampunya. Pada saat kemarau ini, rata-rata sekitar 300 hingga 400 biji per hari. Kalau musim hujan, paling hanya sekitar 200 hingga 250 biji per hari.
Ia pun menjelaskan, pada musim kemarau, proses produksi genteng dari awal hingga jadi dan siap jual membutuhkan waktu sekitar 20 hari. Untuk harga genteng rata-rata terbanderol Rp1.100 hingga Rp1.150 per biji. Sementara pangsa pasarnya yakni di Boyolali dan daerah di sekitarnya.
Marjo menyebut bahan baku produksi genteng merupakan tanah liat dari wilayah Mojosongo Boyolali. Harga bahan baku tanah liat sekitar Rp600 ribu per tiga setengah kubik, imbuhnya, sebulan ambil empat kali untuk bahan baku.
Hal tersebut juga perajin genteng lainnya rasakan di desa yang sama. Adalah Darmaji (48), yang pada musim hujan paling memproduksi genteng sekitar 3.000 biji, tetapi musim kemarau ini bertambah menjadi 5.500 biji per bulan.
“Kondisi panas, produksi genteng bisa bertambah dua kali lipat ketimbang saat musim hujan. Produksi genteng lumayan saat musim kemarau, bertambah hingga sekitar 100 persen daripada saat musim hujan. Ini tentunya menambah penghasilan,” tandasnya. (ant)
Editor: Mu’ammar Rahma Qadafi





