SEMARANG, beritajateng.tv – Sebelum memahami cara yang benar untuk mencegah penyakit demam berdarah, penting untuk mengenali gejala-gejala yang muncul saat seseorang terkena DBD.
Hal ini karena banyak orang tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala infeksi dengue.
Jika gejala muncul, sering kali gejala tersebut keliru dianggap sebagai penyakit lain, seperti flu, dan biasanya mulai terlihat dalam rentang waktu empat hingga sepuluh hari setelah digigit nyamuk yang membawa virus.
Supaya dapat memberikan penanganan lebih cepat, berikut ini informasi seputar gejala dari adanya virus tersebut.
Gejala Penyakit Demam Berdarah
Gejala utama demam berdarah mempunyai efek samping naiknya suhu tubuh yang terjadi secara tiba-tiba. Pada anak-anak, pola demam DBD sering menyerupai bentuk pelana kuda, di mana suhu tubuh menurun selama beberapa hari, kemudian meningkat kembali.
Demam akibat penyakit demam berdarah biasanya berlangsung sekitar 3 hari. Suhu tubuh dapat mencapai 39−40°C dan sulit mereda meskipun pasien telah mengonsumsi obat penurun demam.
Beberapa gejala lainnya yaitu tubuh akan terasa lemas serta sakit kepala yang begitu hebat. Penderita juga akan mengalami nyeri pada bagian mata hingga sakit otot dan sendi.
Tak hanya itu, virus ini juga akan menyebabkan hilangnya nafsu makan serta mual dan muntah. Tubuh juga akan muncul ruam kemerahan pada beberapa bagian area.
Setelah demam mereda, pasien mungkin merasa kondisi tubuhnya membaik. Namun, pada tahap ini, jumlah trombosit sebenarnya sedang menurun drastis, dan terjadi kebocoran pada pembuluh darah.
Kondisi ini meningkatkan risiko perdarahan dan syok akibat kehilangan cairan dari pembuluh darah. Tahap ini merupakan fase kritis, sehingga pasien memerlukan pemantauan yang ketat.
BACA JUGA: Ramai Anggur Shine Muscat Diduga Terpapar Zat Bahaya, Ini Dampaknya bagi Kesehatan
Diagnosis demam berdarah dilakukan dengan menggali informasi mengenai gejala yang dirasakan pasien, riwayat perjalanan, serta adanya kasus penyakit demam berdarah di area tempat tinggal pasien.
Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
Pada tahap awal, dokter dapat melakukan tes tourniquet menggunakan alat pengukur tekanan darah untuk mengevaluasi potensi kebocoran pada pembuluh darah. (*)





