SEMARANG, beritajateng.tv – Kondisi langit di pusat Kota Semarang sore itu tidak seperti biasanya. Matahari yang tidak terlalu terik, ditambah semilirnya hembusan angin, menjadi lebih indah lantaran kehadiran tiga ekor burung dengan warna eksotis tengah mengepakkan sayapnya di udara.
Tiga burung yang termasuk ke dalam anggota famili Psittacidae itu terbang secara berkelompok ataupun sendiri mengelili kawasan Taman Indonesia Kaya di Jalan Menteri Supeno, Mugassari, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang.
Burung tersebut berjenis burung macaw. Pemiliknya adalah Muhammad Farizal, seorang Free Flight Training asal Kota Semarang. Rizal sapaan akrabnya menjelaskan, ia sudah lama menjadi pelatih burung macaw.
“Awalnya seneng dari burung kecil, parkit, love bird, itu kan juga bisa kita latih, terus lama kelamaan kenal burung macaw, sempet jadi trainer juga di Jakarta,” katanya kepada beritajateng.tv, beberapa waktu yang lalu.
Ia menyebut, biaya untuk melatih burung tersebut di Jakarta saat itu menyentuh tarif hingga Rp 10 juta perekornya. Teknik terbangnya bernama free fly.
“Namanya free fly, jadi burung macaw kita terbangin, kita lepas, tapi mereka bisa balik ke kita. Bedanya sama merpati, kalau merpati harus ada betinanya di seberangnya, kalau macaw nggak,” tambahnya.
Rizal menjelaskan beberapa tahap yang harus di lalui melatih burung tersebut. Yang pertama, fly to me, yakni burung macaw terbang menghampiri pelatih dari tangkringannya. Selanjutnya bumerang, yaitu terbang rendah masih di dalam ruangan.
Tahap fly to me dan bumerang merupakan teknik dasar karena masih dilakukan di dalam ruangan. Hingga yang terakhir free fly, yakni burung macaw dilepaskan dan terbang bebas di ruangan terbuka, khususnya lapangan.
BACA JUGA: Melatih Merpati Kesayangannya, Pria Ini Raup Untung Hingga Puluhan Juta
Sementara dalam melatih burung macaw, untuk bisa sampai tahap free fly tak segampang kelihatannya. Bahkan, Rizal mengaku membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun untuk menghasilkan burung macaw yang dapat terbang bebas dengan durasi lama.
“Paling gampang ngelatih dari anakan, kita buat di awal-awal burung macaw laper. Jadi dia hapal sama kita, dari kecil sampai gede usia segini,” katanya.
Resiko burung hilang dari pantauan
Umumnya, burung macaw dapat terbang bebas selama 1 hingga 2 menit. Tapi, salah satu burung yang Rizal latih mampu bertahan di udara selama 30 sampai 90 menit.
“Kalau yang bisa durasi hingga 1,5 jam itu laku Rp200 juta. Tapi emang untuk ngelatihnya sampai kaya gitu agak lama, bahkan tahunan,” ungkap Rizal.
Namun, dalam sesi free fly, Rizal menuturkan bahwa beberapa kali burung macaw miliknya gagal kembali. Bahkan, salah satu burungnya pernah hilang kontak dari yang sebelumnya terbang di area Kliping Tembalang.
Oleh karena itu, untuk pencegahan dan pengamanan, Rizal memasang GPS di kaki burung macawnya. Meski begitu, tidak jarang GPS ikut rusak selama penerbangan.
“Dari Klipang Tembalang itu sampai ke Genuk, posisi GPS mati, akhirnya ada orang posting di facebook nemu burung saya, masih di kabel belum turun ke orang, itu sekitar 12 km,” jelasnya.
BACA JUGA: Raup Untung dari Momen 17 Agustusan, Penjual Atribut Merah-Putih Mulai Buka Lapak di Pinggir Jalan
Ia pun tak bisa membayangkan jika suatu saat nanti burung macawnya hilang. Bahkan, hingga saat ini, jika ia terpaksa berpergian ke luar kota, ketiga burung kesayangannya akan ikut serta.
“Mereka sudah saya anggap anak sendiri,” tandasnya.(*)
Editor: Farah Nazila





