Ia kemudian diseret melewati area depan DJ menuju ruangan belakang yang diduga merupakan ruang manajemen, yang tidak dapat pengunjung umum akses.
Dalam kondisi panik, Tara mencoba berteriak dan memberi isyarat kepada temannya, namun tidak mendapatkan respons.
Terjebak di Ruangan Gelap dan Terkunci
Setibanya di dalam ruangan, Tara menyebut kondisi tempat itu gelap dan terkunci. Situasi tersebut membuatnya semakin ketakutan.
Ia mengaku saat itu sempat berpikir kemungkinan terburuk, termasuk ancaman kehilangan nyawa, mengingat maraknya berita kekerasan terhadap perempuan.
Ketakutan itu membuatnya memilih untuk tidak melawan lebih jauh karena khawatir pelaku akan meningkatkan kekerasan.
Tara menjelaskan bahwa ia mengalami kondisi “freeze” atau membeku, yang umum terjadi pada korban kekerasan seksual. Dalam kondisi tersebut, tubuh dan pikiran seakan tidak mampu bereaksi.
Ia juga mengaku tidak dapat mengingat secara jelas detail kejadian, termasuk posisi atau kronologi spesifik saat kekerasan berlangsung. Hal ini dugaan kuat akibat mekanisme pertahanan otak terhadap trauma.
BACA JUGA: Kuasa Hukum Arnendo: Jika Terbukti Pelaku Pelecehan Seksual, Saya Tidak Akan Membela
Salah satu hal yang masih Tara ingat adalah menatap ke arah cahaya dari monitor CCTV di ruangan tersebut. Ia menggambarkan kondisi seperti kehilangan sensasi dan kesadaran penuh atas apa yang terjadi.
Dugaan pemerkosaan baru dilaporkan Tara beberapa waktu lalu. Ia kini berani berbicara untuk mengungkap pengalaman yang selama ini ia simpan. (*)





