SEMARANG, beritajateng.tv – Forum Rakyat Peduli Gunung Lawu, menyuarakan penolakan terhadap rencana pemerintah menggarap proyek eksplorasi panas bumi atau geothermal Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.
Penyampaian penolakan terhadap rencana proyek geothermal Jenawi juga melalui aksi fisik. Mereka berlari menempuh sekitar 150 kilometer dari kawasan Gunung Lawu menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah di Kota Semarang.
“Mohon maaf dengan pakaian seperti ini. Kami baru saja lari 150 kilometer dari Cemoro Sewu (Karanganyar) sampai besok [Kamis] ke Kantor Gubernur Jawa Tengah untuk menyuarakan penolakan geothermal,” kata Perwakilan Forum Rakyat Peduli Gunung Lawu, Ari, di Collabox Creative Hub, Kota Semarang, Rabu, 23 September 2026 malam.
BACA JUGA: Soal Proyek Geothermal Gunung Ungaran, DPRD Kabupaten Semarang Minta Mekanisme Demokrasi
Dia mengharapkan, agar aksi tersebut mampu mengetuk pemikiran pemerintah. Utamanya untuk membebaskan Gunung Lawu dari proyek geothermal.
“Mohon ya, mudah-mudahan ini menjadi berkah atau pemerintah mendengarnya. Bahwasanya masyarakat ini memang tidak ingin itu terjadi,” katanya.
Ari juga mengajak kelompok masyarakat yang tengah menolak rencana geothermal di kawasan lain untuk menyuarakan hal bersama. Termasuk penolakan rencana proyek geothermaldi Gunung Ungaran dan Telomoyo.
“Untuk teman-teman yang sekarang mungkin baru berjuang, ayo bareng-bareng memperkuat kekuatan kita dari segala tapak,” katanya.
Perjuangan Menolak Proyek Geothermal sejak 2024
Ari mengatakan, perjuangan menolak geothermal di kawasan Gunung Lawu sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Celakanya, kata Ari, rencana tersebut kembali muncul pada 2024 melalui status wilayah kerja panas bumi (WKP) Gunung Lawu yang mencakup wilayah Jenawi.
“Sampai saat ini pun kita belum bisa menghapus [status] WKP dari Gunung Lawu. Ironis memang, karena perjuangan yang sudah kita lakukan sejak tahun itu. Dulu awalnya di area Tawangmangu atau di sisi selatan Gunung Lawu. Pada saat itu kita lawan, Alhamdulillah berhasil,” katanya.
BACA JUGA: Gelar Konsolidasi, Aliansi Semar Gugat Tolak Rencana Proyek Geotermal Gunung Ungaran dan Telomoyo
Ari menilai, penamaan wilayah Jenawi sebagai WKP seolah memisahkannya dari kawasan Gunung Lawu. Padahal, kata dia, wilayah tersebut berada di lereng Gunung Lawu.
“Tetapi pada tahun 2024 kemarin kok muncul lagi WKP Gunung Lawu. Bukan di Gunung Lawu, tapi di Jenawi, yang dipikir [pemerintah] masyarakat itu terlalu bodoh. Jadi Jenawi itu katanya bukan wilayah Gunung Lawu. Padahal jelas-jelas Jenawi itu lerengnya Gunung Lawu,” katanya.
Tak Ingin Dampak Proyek Geothermal seperti Dieng
Lebih lanjut, Ari mengatakan, alasan penolakan terhadap rencana pengembangan geothermal di wilayah Jenawi.
Dia bilang, masyarakat di kawasan Gunung Lawu tidak ingin ada dampak buruk geothermal di Dieng terjadi di wilayah Gunung Lawu.
“Kalau di sana sudah terjadi ya, bagaimana mau berjuang untuk melawan. Melawan itu sudah agak berat. Tapi untuk Ungaran, untuk Telomoyo, dan lain sebagainya, kan itu [geothermal] belum terjadi,” katanya.
Sebagai contoh, Ari mengatakan, kondisi kawasan geothermal di Dieng, kerap mengeluarkan aroma menyengat bak telur busuk.
“Itu yang tidak pernah kita terima di Gunung Lawu saat ini, bau telur busuk. Jadi kalau ingat Dieng, ingat telur busuk,” katanya.
BACA JUGA: Kecewa Gagal Berdialog, Massa Jateng Guyub Ancam Demo Kantor Bupati Semarang
Selain persoalan bau menyengat yang muncul, Ari juga menyoroti keberadaan pipa dengan berbagai macam ukuran. Pipa-pipa tersebut tersebar di kawasan geothermal Dieng.
“Terus semrawutnya area Dieng, pipa itu di mana-mana. Ada pipa sing (yang) gedenya segini, ada sing (yang) segini, ada sing (yang) segini, ada sing (yang) segini, itu berada di seluruh wilayah,” ucap Ari sambil menggambarkan besarnya pipa tersebut.
Dia mengatakan, keberadaan pipa-pipa itu untuk proyek geothermal itu berada di tempat-tempat wisata. Hal itu baginya bukan sesuatu yang layak dengan kesemperawutan yang muncul di kawasan wisata.
Pertanyakan Klaim Energi Terbarukan dari Geothermal
Lebih jauh, Ari turut mempertanyakan konsep energi panas bumi atau geothermal sebagai energi terbarukan. Proyek geothermal di Dieng, kata Ari, menunjukkan bahwa sumber panas bumi tidak serta-merta tersedia tanpa batas.
“Jadi benar tadi kalau energi terbarukan kami pertanyakan. Di mana terbarukannya? Faktanya tidak seperti itu,” katanya.
Menurut pengamatannya, sumber panas di kawasan geothermal tidak hanya berada di satu titik. Proyek geothermal bisa mengeksplorasi pada titik-titik lainnya.
BACA JUGA: Gelar Konsolidasi, Aliansi Semar Gugat Tolak Rencana Proyek Geotermal Gunung Ungaran dan Telomoyo
Selain sumber panas, Ari juga mengkhawatirkan keberadaan sumber air yang menyuplai dalam aktivitas geothermal. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian sebab masyarakat bergantung pada sumber air di wilayah sekitar.
“Terus yang ketiga, ada sumber-sumber air itu ada penampungannya. Masuk ke situ untuk sebagai bahan itu [geothermal]. Lama-kelamaan sumber air untuk masyarakat kan hilang secara pelan-pelan. Itu yang perlu menjadi poinnya,” katanya.
Ajak Masyarakat Buat Gerakan Bersama Tolak Geothermal
Lebih lanjut, Ari mengajak kelompok masyarakat yang menolak geothermal di berbagai daerah Jawa Tengah untuk memperkuat gerakan secara bersama-sama.
Ari menilai, selama ini penolakan terhadap geothermal masih banyak terjadi secara lokal sehingga lebih mudah mendapat tekanan.
“Ayo bersama-sama, karena selama ini yang terjadi hanya perlawanan-perlawanan lokal. Karena perlawanan lokal itu terlalu mudah untuk diserang,” katanya.
Ari juga menyinggung anggapan sebagian masyarakat setempat, utamanya tokoh masyarakat setempat. Di mana mereka kerap memilih mengikuti kebijakan pemerintah.
“Mayoritas, orang-orang tua itu sudah mlempem. ‘Wis toh, leh, mbok wis manut negara, mbok wis manut pemerintah.’ Itulah kata orang-orang tua kita,” kata Ari. (*)
Editor: Diaz A Abidin





