Zainal menuturkan, penyebaran dugaan kuat bermula dari sebuah akun Telegram yang hingga kini masih penyidik alami.
“Mereka itu mengambil dari Telegram. Nah, Telegram inilah yang dugaan kuat menyebarkan sejak awal. Siapa Telegram ini? Itu yang sekarang sedang diselidiki oleh penyidik siber,” katanya.
Korban Alami Trauma Berat
Zainal menegaskan seluruh foto dan video yang beredar merupakan hasil manipulasi AI. Korban, kata dia, tidak pernah membuat maupun melakukan perbuatan sebagaimana digambarkan dalam konten tersebut.
Akibat peristiwa itu, korban sempat mengalami syok dan stres berat selama sekitar satu pekan. Hingga kini, kabarnya kondisi psikologisnya belum sepenuhnya pulih.
“Anak itu syok sekali waktu itu, sampai seminggu stres berat. Tapi karena ini editan AI, lama-lama mulai bisa menata diri,” tuturnya.
BACA JUGA: Anak Muda Cemas Isu Perang dan Masa Depan? Psikolog: Selektif Informasi Jadi Kunci
Meski demikian, trauma yang teralami korban masih membekas. Perihal apakah korban masih mengalami trauma, Zainal menjawab singkat kondisi korban masih sangat trauma.
“Sekarang kondisinya masih murung. Walaupun itu berupa editan AI. Masih trauma sekali,” tandas Zainal. (*)
Editor: Farah Nazila





