Selain menjaga kebersihan, Alvienno menilai pemilik hewan peliharaan atau “pawrents” juga harus memastikan kondisi anjing yang mereka bawa benar-benar aman.
Ia mengingatkan agar pemilik tidak membawa anjing yang agresif atau berpotensi mengganggu pengunjung lain saat berada di pusat perbelanjaan maupun ruang publik lainnya.
“Dan jangan sekali-sekali bawa anjing ke dalam mal dalam keadaan agresif, loop, dan lain-lain,” tegasnya.
Menurut Alvienno, kesadaran pemilik hewan peliharaan menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap konsep pet friendly.
Sebab, tuturnya, polemik yang muncul selama ini tidak selalu berkaitan dengan keberadaan hewan peliharaan itu sendiri. Melainkan, perilaku sebagian pemilik yang kurang memperhatikan lingkungan sekitar.
Ia pun mengimbau para pawrent atau pemilik anabul untuk selalu membawa perlengkapan yang diperlukan selama beraktivitas bersama hewan peliharaan di ruang publik.
“Iya, harus bawa plastik kresek atau perlengkapan yang bisa buat bersihin anjing lah,” ujarnya.
Menurutnya, langkah sederhana seperti membawa kantong plastik untuk membersihkan kotoran hewan merupakan bentuk tanggung jawab dasar yang harus pemilik tunjukkan kepada masyarakat.
Komunitas Berharap Semarang Tetap Punya Ruang Ramah Hewan Peliharaan
Terkait keputusan Mall 23 yang menghentikan sementara aktivitas pet friendly, Alvienno mengaku menghormati langkah yang manajemen ambil. Ia menilai pihak mal tentu memiliki pertimbangan tersendiri dalam menyikapi polemik yang berkembang di media sosial.
“Kalau buat lebih jelasnya saya kurang tahu juga ya. Kalau buat saya sih ini buat awal permulaan mall baru di Semarang yang pet friendly,” kata Alvienno.
Alvienno berharap pengelola mal nantinya dapat menemukan formulasi terbaik yang mampu mengakomodasi seluruh pihak, baik pengunjung umum maupun pemilik hewan peliharaan.
“Kalau buat pihak mal mungkin bisa memberi keputusan yang lebih baik lah buat warga Semarang, bagaimana,” lanjutnya.





