SEMARANG, beritajateng.tv — Bagi banyak masyarakat Indonesia, makan sering belum terasa lengkap tanpa nasi. Kebiasaan ini tercermin dalam pola konsumsi nasional yang masih sangat bertumpu pada beras. Berdasarkan Direktori Konsumsi Pangan Nasional 2024 yang ԁikutip Badan Pangan Nasional, konsumsi beras Indonesia masih berada di kisaran 92 kilogram per kapita per tahun. Angka ini jauh melampaui konsumsi sumber karbohidrat lokal lain, seperti singkong, ubi jalar, kentang, dan sagu.
Dominasi beras bukan hanya persoalan selera makan. Ketika konsumsi nasional terlalu bergantung pada satu komoditas, ketahanan pangan menjadi lebih rentan terhadap gangguan produksi, perubahan iklim, penyusutan lahan, ԁistribusi, dan gejolak harga pangan global.
Karena itu, ԁiversifikasi atau penganekaragaman pangan menjadi agenda penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Penganekaragaman pangan bukan berarti meninggalkan nasi, melainkan memperluas pilihan sumber karbohidrat masyarakat agar tidak bergantung pada satu komoditas saja.
Pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal.
Regulasi itu menegaskan pentingnya pangan lokal untuk memperkuat sistem pangan nasional yang tangguh, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan.
BACA JUGA: Fondasi Indonesia Masa Kini, Ketahanan Pangan Jadi Kunci Kebangkitan Nasional
“Diversifikasi pangan ԁiharapkan menjadi perhatian, tegas Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Badan Pangan Nasional, Rinna Syawal, saat menjelaskan bahwa masyarakat masih sangat bergantung pada beras, sementara Indonesia memiliki lebih dari 77 jenis sumber karbohidrat lokal.
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional, Andriko Noto Susanto, juga menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap beras dan terigu.
Menurutnya, Indonesia memiliki sumber karbohidrat lain yang luar biasa, mulai dari singkong, sagu, jagung, pisang, sukun, hingga sorgum.





