Jateng

Marak Bencana-Perubahan Iklim, Pemprov Jateng Optimistis Swasembada Pangan Tercapai di 2026

×

Marak Bencana-Perubahan Iklim, Pemprov Jateng Optimistis Swasembada Pangan Tercapai di 2026

Sebarkan artikel ini
Swasembada Pangan Bencana | Sawah Banjir Sawah
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, saat dijumpai di Gradhika Bhakti Praja, Kota Semarang, Kamis, 15 Januari 2026 sore. (Made Dinda Yadnya Swari/beritajateng.tv)

“Pengaruhnya ada, tapi tidak besar. Sejauh yang kami ukur, paling maksimal itu sekitar 4 persen. Bahkan di Jawa Tengah, yang pernah terjadi itu sekitar 2 persen. Itu sudah gabungan dari yang kena bencana alam, banjir, kekeringan, maupun hama penyakit, tapi totalnya hanya sekitar 2 persen dari keseluruhan,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, Tavares memastikan target swasembada beras di Jawa Tengah masih aman.

BACA JUGA: KUA PPAS 2026 Prioritaskan Swasembada Pangan di Jateng

“Kalau produksi 2025 saja lebih dari 9,3 juta ton, kemudian dikurangi 2 persen, itu kan kecil. Jadi untuk target swasembada beras masih aman,” tegasnya.

Menjelang Ramadan, Tavares menyebut sejumlah daerah di Jawa Tengah sudah mulai memasuki masa panen. Bahkan, beberapa wilayah diperkirakan akan melakukan panen secara relatif serempak.

Ia menyebut Sragen menjadi salah satu daerah dengan produksi yang cukup tinggi.

“Panen ada. Yang kemungkinan panen bersama itu misalnya seperti Sragen, kemudian beberapa daerah lain yang sebenarnya sudah tanam dan tinggal panen saja. Kalau Sragen cukup tinggi. Panennya nanti relatif seragam,” kata dia.

Antisipasi Penyakit Hewan, Dinas Pertanian dan Peternakan Jemput Bola Lewat Program “Healing”

Selain tanaman pangan, Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah turut menaruh perhatian pada antisipasi penyakit hewan, termasuk potensi penyakit menular seperti Nipah. Menurut Tavares, pendekatan yang dilakukan bersifat aktif dengan sistem jemput bola ke lapangan.

Ia menyebut pendekatan tersebut diadopsi dari konsep pelayanan kesehatan keliling, namun diterapkan pada sektor peternakan.

“Kami upaya pencegahan, Dinas Pertanian dan Peternakan datang ke lapangan untuk mengecek. Kami tidak menunggu bola. Kalau di Dinas Kesehatan ada spesialis keliling atau spelling ya, kami di pertanian punya program namanya ‘healing’, kesehatan hewan keliling,” ujarnya.

Melalui program tersebut, tim dari Dinas Pertanian dan Peternakan akan mendatangi lokasi-lokasi yang muncul isu penyakit hewan, melakukan pemeriksaan, pelaporan, hingga penanganan lanjutan.

BACA JUGA: Surplus Padi, Gubernur Jateng Ternobatkan Sebagai Kepala Daerah Swasembada Pangan