Pendidikan

Melihat SMK PIKA Semarang, Satu-satunya Sekolah “Tukang Kayu” di Indonesia

×

Melihat SMK PIKA Semarang, Satu-satunya Sekolah “Tukang Kayu” di Indonesia

Sebarkan artikel ini
siswa SMK pika
Sejumlah siswa SMK PIKA saat belajar di bengkel sekolah. (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv)

SEMARANG, beritajateng.tv – Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia menyisakan banyak cerita menarik dan tak hanya dirasakan oleh umat Katolik. Salah satunya cerita satu SMK di Kota Semarang yang berkesempatan membuat dua buah kursi singgasana untuk Paus Fransiskus selama di Jakarta.

SMK yang telah membuat kursi untuk Paus Fransiskus itu adalah SMK Pendidikan Industri Kayu Atas (PIKA). Sebagai sekolah yang memang fokus pada industri kayu, bisa dibilang SMK PIKA adalah sekolahnya para “tukang kayu” profesional di Indonesia.

“Kami memang sekolahan yang hanya punya satu jurusan yaitu Teknik Furniture. Nggak hanya di Jawa Tengah, mungkin di Indonesia kami satu-satunya sekolahan yang hanya punya satu jurusan kayu,” kata Kepala SMK PIKA, Fx Marsono kepada beritajateng.tv, belum lama ini.

Marsono mengatakan, sekolah ini memang baru berdiri selama 53 tahun atau sejak 3 Januari 1972. Namun, sejarah panjang SMK PIKA sebenarnya mulai sejak tahun 1953.

BACA JUGA: Di Balik Kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, Ada Kursi Karya Siswa SMK PIKA Semarang

Ia mengisahkan, cikal bakal SMK PIKA adalah bengkel bernama ‘Kebun Kayu’ yang memproduksi benda-benda berhubungan dengan gereja. Seperti bangku, perabot, hingga perlengkapan gereja lainnya.

Lalu, berjalannya waktu, Bengkel Kayu bertransformasi menjadi sebuah lembaga pendidikan bernama SMK PIKA. Fokus dan tujuannya pun masih sama. Yakni untuk mewadahi generasi muda dan mencetak lulusan yang ahli di bidang perkayuan.

“Bisa dikatakan 70 sampai 80 persen pesanan SMP PIKA kami terima dari biara, suster, pastoral, gereja, sekolahan. Terbaru kami kirim untuk dua gereja besar di Makassar, Gereja Santo Yoseph Pekerja dan Gereja Kristus Raja Andalas,” sambungnya.

Lebih lanjut, proses pendidikan di SMK PIKA sedikit berbeda di banding sekolah kejuruan lainnya. Para siswa harus belajar di SMK PIKA Semarang selama 4 tahun. Selain itu, SMK PIKA hanya menerima 60 siswa baru tiap angkatannya.

Begitu pula metode pembelajarannya yang berbeda dari sekolah kejuruan lainnya.

“Kami sistemnya teaching factory system, jadi kami membawa budaya perusahaan ke SMP PIKA. Orang masuk ke lingkungan SMK PIKA bingung ini sekolah tapi mirip pabrik. Siswa akan belajar seharian full di bengkel biar mereka punya gambaran ini loh industri perkayuan sebenarnya,” kata Marsono.

Ia pun menilai, industri perkayuan kini memiliki potensi yang menjanjikan di masa depan. Tukang kayu tak lagi identik dengan kotor, bau dan berkeringat.

BACA JUGA: Ibadah Jarak Jauh, Ribuan Umat Katolik di Semarang Ikuti Misa Kudus Paus Fransiskus via Live Streaming

Lebih dari itu, tukang kayu telah berkembang menciptakan profesi-profesi lain yang berkaitan dengan perkayuan. Mulai dari drafter, production planninng and inventory control (ppic), hingga quality control (qc).

“Kami punya analogi, selama masih ada pernikahan, mereka pasti butuh rumah, dalam rumah pasti butuh prabot, peluangnya sangat besar sekali. Profesi tukang kayu banyak diminati anak-anak,” tandasnya. (*)

Editor: Farah Nazila

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp