Ekbis

Membaca Perempuan ‘Pulang-pergi’ dalam Senyap Bus Listrik

×

Membaca Perempuan ‘Pulang-pergi’ dalam Senyap Bus Listrik

Sebarkan artikel ini
Bus listrik BRT Trans Semarang transit untuk naik turun penumpang di shelter Simpanglima, Kota Semarang, Rabu sore, 4 Novermber 2026. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)
Bus listrik BRT Trans Semarang transit untuk naik turun penumpang di shelter Simpanglima, Kota Semarang, Rabu sore, 4 Novermber 2026. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)

Seperti biasa, dia naik bersamaan dengan anak sekolah dan para pekerja di Kota Lumpia. Biasanya, dia kerap menaiki BRT Trans Semarang lama berwarna biru berbahan bakar minyak (BBM). Tentu dengan segala kekurangannya. Terutama kondisi fisik bus, hingga aroma menyengat asap knalpot yang juga tercium di kabin bus.

Ira juga baru tahu, kalau Kota Semarang baru saja memiliki bus listrik. Sudah sebulan terakhir, Pemerintah Kota Semarang mengoperasikan 27 bus listrik Trans Semarang sejak Rabu, 23 September 2026. Ini sebagai upaya elektrifikasi transportasi umum  yang lebih nyaman, dan rendah emisi untuk masyarakat nikmati.

Ira Ariani (47) saat beritajateng.tv temui seusai pulang kerja di kompleks DP Mall. Jalan Pemuda, Kota Semarang, Selasa sore, 27 Oktober 2026. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)
Ira Ariani (47) saat beritajateng.tv temui seusai pulang kerja di kompleks DP Mall. Jalan Pemuda, Kota Semarang, Selasa sore, 27 Oktober 2026. (Diaz A Abidin/beritajateng.tv)

Membaca Buku, Scrolling HP, Mengamati Kota

Ira mengaku merasa berbeda saat pertama kalinya menaiki bus listrik dengan warna khas putih pada bodi luar. Meskipun, dia masih kerap menumpang bus Trans Semarang lama berwarna biru dengan bahan bakar minyak (BBM).

Hal tersebut lantaran jumlah operasional bus listrik di Kota Semarang masih terbatas sebanyak 27 unit saja. Sementara total bus yang belum elektrifikasi mencapai 284 unit pada 2026.

“Rasanya kalau naik bus listriknya itu penumpangnya sudah terfilter. Karena hanya menerima pembayaran non tunai ya,” kata sosok yang menggemari membaca buku tersebut.

Sebagai pelanggan transportasi umum yang sudah lama sejak di Jakarta, Ira merasa memiliki ruang ketiga. Transportasi umum menjadi ruang dan waktu pribadi, di antara aktivitas pulang-pergi (PP) untuk bekerja, sebagai pekerja, juga seorang ibu.

Dari dalam kabin kendaraan transportasi umum itulah, dia bisa menyalurkan kegemaran lain untuk membaca buku. Bila situasinya tak bisa membaca buku, aktivitas lainnya yakni bermain gawai (scrolling), juga mengamati perkembangan kota di luar kaca.