“Baca buku sama scrolling HP (gawai) pasti. Tapi saya membaca cuma kalau dapat tempat duduk. Kalau berdiri scrolling doang bisanya. Praktis bisa tidur juga,” ucap ira yang belakangan sedang menghabiskan waktu membaca buku fiksi dari penulis asal Jepang tersebut.
”Yang bagus bukunya Seishi Yokomizo, (buku) kriminalnya wow. Sama Uketsu, bukunya tiga tapi yang ada terjemahannya baru dua. Judulnya Strange buildings,” katanya melanjutkan.
Transportasi umum sudah menjadi candu bagi Ira. Kehadiran angkutan umum bus listrik di Kota Semarang ini dia rasakan menambah kenyamanan.
”(Bus listriknya) sih oke. Terus cara supir nyetirnya juga lebih behave,” ucapnya.
Dia mengaku akan tetap menjadi pelanggan transportasi umum. Walaupun baginya lalu-lintas di Kota Semarang masih lebih lengang berbanding di Ibu Kota jakarta dengan hari-hari penuh drama kemacetan.

Elektrifikasi Transportasi, Transformasi dari Si ’Cumi-cumi Darat’
Lebih lanjut, Ira membandingkan pengalaman pertama menaiki bus listrik tersebut berbanding armada yang sebelum-sebelumnya. Dia merasa adrenalinnya lebih kencang saat naik bus biru. Sebutan bus Trans Semarang berbahan bakar minyak rute utama Penggaron – Mangkang (PP) yang membelah Kota Semarang.
“Kalau naik yang biru yang besar itu ya ampun. Bikin orang-orang jadi lebih religius. Kendalanya itu antara bisnya sudah jelek banget, terus AC-nya nggak berasa. Yang nyetir ngeremnya ugal-ugalan, terus masang lagunya kenceng banget kayak gitu,” katanya.
Ira berharap keberadaan bus listrik Trans Semarang yang baru tersebut bisa pemerintah pertahankan. Hal ini menyangkut keamanan, kebersihan, dan kenyamanannya. Syukur-syukur segera bertambah armada bus dengan panjang 12 meter, berkapasitas 60 orang tersebut.





