Untuk saat ini Pemkot Semarang, mengelola armada BRT Trans Semarang dengan total 284 unit pada 2026.
”Tujuannya mewujudkan layanan transportasi publik yang modern, inklusif, dan ramah lingkungan,” kata dia.
Agustina mengatakan, bus listrik tersebut juga memiliki tingkat kebisingan operasional yang lebih rendah. Ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengakses kendaraan listrik dalam layanan transportasi publik.
“Kami berharap transformasi ini memberikan pilihan mobilitas yang lebih baik bagi masyarakat. Sekaligus menjadi bagian dari upaya bersama menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” katanya.
Lebih lanjut, Agustina mengatakan, selain penambahan armada bus listrik tersebut, ada upaya peremajaan armada lain. Tujuannya mengurangi emisi dari asap knalpot yang keluar.
Selama ini dia akui, sebagian bus masih mengeluarkan asap hitam bak tinta cumi-cumi. Masyarakat menjuluki bus-bus tersebut dengan julukan ’cumi-cumi darat’.
Agustina juga mengimbau masyarakat untuk aktif melaporkan keberadaan BRT Trans Semarang yang masih mengeluarkan asap hitam tebal. Langkah itu, agar ada tindak lanjut dalam proses penggantian armada.
“Kalau menghilangkan (armada) sekaligus mungkin terlalu ekstrim. Tapi kami kurangi secara bertahap, satu per satu bus beremisi diganti baru, sampai nantinya seluruh armada bersih total,” katanya.

Kemenhub Target Elektrivikasi Bus Listrik 80 Persen
Melansir laman Kantor Berita Antara, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tmengkaji peta jalan (roadmap) elektrifikasi angkutan umum perkotaan. Targetnya adopsi bus listrik sebesar 80 persen pada 2030.
Keinginan tersebut, mempertimbangkan situasi terkini serta kemampuan fiskal pemerintah daerah dalam mendukung transisi energi di sektor transportasi.
Direktur Angkutan Jalan Kemenhub, Muiz Thohir, mengatakan, usulan tersebut sebagau revisi penyesuaian dari target sebelumnya sebesar 90 persen pada 2030. Kemudian akan meningkat kembali pada 2045.





