Sungguh, masa kecil yang demikian itu cukup terepresentasikan lewat masa kecil Sato Reang di dalam AMKM: merasa iri dengan rekan sebaya yang tak perlu kelewat patuh beragama. Toh, kewajiban beragama cukup diajarkan dengan baik selama pembelajaran agama di sekolah maupun kuliah—apalagi dulu saya sempat masuk pesantren dan selepas SMA berkuliah di sebuah universitas Islam.
Sebetulnya Sato Reang, barangkali juga sebagian besar anak kecil hingga remaja, tak terlalu bisa mengekspresikan keinginannya untuk melawan kehendak orang tua. Yang bisa mereka lakukan hanyalah ngedumel sendiri di dalam hati. Sehingga, ketika berangsur-angsur dewasa dan tak lagi dalam pantauan orang tua, mereka lantas mencoba melepas “beban kesalehan” itu dengan menjadi biasa-biasa saja, atau bahkan meliar sebagaimana Sato Reang.
Agaknya, Eka Kurniawan menulis AMKM seakan-akan ingin menyindir cara orang tua mengasuh anaknya yang cenderung otoriter. Mereka kerap mendidik dengan mengatur secara ketat, kaku, atau bahkan keras. Harapannya, agar sang anak manut terhadap mereka, tentu lagi-lagi tanpa penjelasan yang memadai. Boleh jadi, cara mendidik yang ayah Sato Reang pula ayah-ayah lain lakukan berasal dari latar belakang budaya ataupun turun-temurun. Sehingga, mereka bisa saja sekadar meniru bagaimana cara orang tua mereka mengasuhnya saat kecil dulu. Begitu. (*)
Mu’ammar R. Qadafi
Editor beritajateng.tv


