Saat membaca Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (AMKM), saya, juga barangkali mereka yang masa kecilnya cukup dekat dengan hal-hal religius, justru merasa terwakilkan dengan apa yang Sato Reang perbuat di dalam novel. “Anak-anak kecil hanya mengikuti apa yang dikatakan sepuh-sepuh ini, dan mereka tak pernah punya keinginan untuk menerangkannya.” Gerutuan Sato Reang dalam benaknya tersebut cukup menggambarkan bagaimana para orang tua hanya gemar memberi perintah keagamaan kepada anaknya sewaktu kecil. Sang anak tak beroleh penjelasan konsep mendasar sekalipun terkait agama maupun laku beragama. Yang ada hanyalah seruan perintah untuk melakoni sekian ritus agama, dan, agaknya, memang demikianlah umumnya orang tua mengajarkan agama kepada anak-anak.
Sejak saya kecil, orang tua telah mengajari saya untuk membaca doa-doa, sembahyang lima waktu, hingga turut berpuasa saat Ramadan tiba. Ajaran agama yang sekonyong-konyong lagi tanpa penjelasan itu membuat ritus-ritus tersebut seolah menjadi rutinitas belaka. Dan, tak jarang yang demikian membuat saya kala itu terantuk penat.
Sebagaimana Sato Reang, saya juga dibangunkan di waktu Subuh, tentu supaya tak sembahyang kesiangan. Jika ayah Sato Reang sekadar memanggil dan mengetuk pintu, ayah saya bahkan menambah pula dengan menimpuk menggunakan bantal serta guling. Meskipun, saya tak sampai beroleh kewajiban untuk selalu salat berjamaah di masjid.
Selain itu, selama saya bersekolah di bangku SD, orang tua memasukkan saya ke sekolah sore untuk belajar mengaji. Bahkan, selepas tamat dari sana, mereka menambahi pula dengan mendatangkan guru privat untuk mengajar agama di rumah, yang untungnya tak berlangsung lama. Betapa….
BACA JUGA: Menyaksikan Ontran-ontran Program Sastra Masuk Kurikulum di Tepi Gelanggang Polemik


