Jateng

MTQ Nasional di Semarang, Menag Nasaruddin Ummar Ingin Gen Z di Era AI tak Kehilangan Kompas Moral

×

MTQ Nasional di Semarang, Menag Nasaruddin Ummar Ingin Gen Z di Era AI tak Kehilangan Kompas Moral

Sebarkan artikel ini
Pawai Taaruf MTQ Nasional di Semarang
Kafilah meramaikan Pawai Taaruf pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur'an Nasional (MTQ) XXXI tahun 2026 di Kota Semarang, Jawa Tengah. (Foto: Dok. Pemprov Jateng)

Dia memberikan gambaran bagaimana nilai Qur’ani seharusnya hadir dalam kehidupan sehari-hari. Di lingkungan keluarga, misalnya, nilai Al-Qur’an diwujudkan melalui kasih sayang, tanggung jawab, musyawarah, serta kemampuan menjaga kehormatan satu sama lain.

“Tidak ada kekerasan, penghinaan ataupun kesewenang-wenangan yang dapat dibenarkan mengatasnamakan agama,” katanya.

Sementara dalam kehidupan bermasyarakat, sikap Qur’ani harus terwujud melalui ta’aruf, ta’awun, dan tabayun. Masyarakat diajak untuk saling mengenal, saling membantu dalam kebaikan, serta memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

Nilai-nilai Al-Qur’an, kata Nasaruddin Umar, harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, seseorang yang dekat dengan Al-Qur’an seharusnya juga menunjukkan akhlak yang baik dalam kehidupan nyata.

“Semakin dekat seseorang kepada Al-Qur’an, semestinya semakin mulia akhlaknya. Semakin santun tutur katanya, semakin menghormati perbedaan dan semakin besar kontribusinya bagi kerukunan dan persatuan Indonesia,” ucapnya.

Hidupkan Karakter Living Qur’an dalam Masyarakat

Di tengah perubahan zaman, Nasaruddin Umar, berharap generasi muda dapat menggabungkan kedalaman iman, keluasan ilmu, kemuliaan akhlak, serta kecakapan menghadapi perubahan zaman.

Nilai-nilai Al-Qur’an harus diterjemahkan menjadi perilaku sehari-hari. Karena itu, generasi muda didorong untuk tidak berhenti pada prestasi keagamaan.

“MTQ harus menjadi bagian daripada ekosistem ilmu dan peradaban Al-Qur’an. Bukan hanya living together Al-Qur’an tetapi menjadi living Qur’an,” katanya.

Lebih jauh dapar diimplementasikan dalam teknologi, berkomunikasi di media sosial, bekerja, belajar, berinteraksi dengan masyarakat, menghormati perbedaan, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

“Takzim amalan ini ialah dari sekadar menghafal menuju mengamalkan, dari sekadar memperlombakan Al-Qur’an menuju membangun kehidupan yang Qur’ani,” katanya. (*)

Editor: Diaz A Abidin

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp