Jateng

MTQ Nasional di Semarang, Menag Nasaruddin Ummar Ingin Gen Z di Era AI tak Kehilangan Kompas Moral

×

MTQ Nasional di Semarang, Menag Nasaruddin Ummar Ingin Gen Z di Era AI tak Kehilangan Kompas Moral

Sebarkan artikel ini
Pawai Taaruf MTQ Nasional di Semarang
Kafilah meramaikan Pawai Taaruf pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur'an Nasional (MTQ) XXXI tahun 2026 di Kota Semarang, Jawa Tengah. (Foto: Dok. Pemprov Jateng)

SEMARANG, beritajateng.tv – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengingatkan generasi muda, khususnya Gen Z, agar tidak sekadar mengikuti perkembangan zaman dan teknologi.

Kemajuan digital, termasuk kecerdasan buatan (AI), harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang membawa kemaslahatan, tanpa menghilangkan nilai agama dan tanggung jawab kemanusiaan.

Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar dalam pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Lapangan Pancasila Simpang Lima Kota Semarang, Sabtu, 12 September 2026 malam.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan telah membawa perubahan besar dalam berbagai sektor kehidupan. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi generasi muda untuk tetap memiliki pegangan moral ketika beradaptasi dengan perubahan zaman.

BACA JUGA: 5 Jenis Lomba Kaligrafi MTQ Nasional 2026 di Semarang, Peserta Capai 380 Orang

“Kepada generasi muda Al-Quran, saya berpesan agar memiliki kedalaman iman, keluasan ilmu, dan kemuliaan akhlak, dan kecakapan menghadapi perubahan zaman,” kata Nasaruddin Umar dalam sambutannya.

Dia mengatakan, generasi muda tidak cukup hanya menguasai teknologi. Kemampuan tersebut harus berjalan beriringan dengan iman, ilmu, akhlak, serta tanggung jawab terhadap sesama.

“Generasi muda harus mampu menggunakan teknologi untuk kemaslahatan tanpa kehilangan kompas moral dan tanggung jawab kemanusiaan,” ucapnya.

Terapkan Nilai-nilai Al-Qur’an ke ruang Digital

Nasaruddin Umar memberikan pesan kepada generasi muda itu tidak terlepas dari tema MTQ Nasional XXXI, bertema “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban.”

Dia bilang, kedekatan dengan Al-Qur’an tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca, menghafal, atau memahami kandungannya.

Hal itu juga berlaku dalam kehidupan generasi muda di ruang digital. Sikap tersebut dinilai penting di tengah derasnya arus informasi di media sosial.

BACA JUGA: Kota Semarang Cetak Rekor Dunia MURI, 288 Ribu Warga Ikut Nyanyikan Mars MTQ Nasional

“Orang yang dekat dengan Al-Qur’an semestinya menolak fitnah, hoaks, ujaran kebencian, serta berbagai tindakan yang dapat merusak kehormatan dan persaudaraan,” ucap dia.

Dia memberikan gambaran bagaimana nilai Qur’ani seharusnya hadir dalam kehidupan sehari-hari. Di lingkungan keluarga, misalnya, nilai Al-Qur’an diwujudkan melalui kasih sayang, tanggung jawab, musyawarah, serta kemampuan menjaga kehormatan satu sama lain.

“Tidak ada kekerasan, penghinaan ataupun kesewenang-wenangan yang dapat dibenarkan mengatasnamakan agama,” katanya.

Sementara dalam kehidupan bermasyarakat, sikap Qur’ani harus terwujud melalui ta’aruf, ta’awun, dan tabayun. Masyarakat diajak untuk saling mengenal, saling membantu dalam kebaikan, serta memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.

Nilai-nilai Al-Qur’an, kata Nasaruddin Umar, harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, seseorang yang dekat dengan Al-Qur’an seharusnya juga menunjukkan akhlak yang baik dalam kehidupan nyata.

“Semakin dekat seseorang kepada Al-Qur’an, semestinya semakin mulia akhlaknya. Semakin santun tutur katanya, semakin menghormati perbedaan dan semakin besar kontribusinya bagi kerukunan dan persatuan Indonesia,” ucapnya.

Hidupkan Karakter Living Qur’an dalam Masyarakat

Di tengah perubahan zaman, Nasaruddin Umar, berharap generasi muda dapat menggabungkan kedalaman iman, keluasan ilmu, kemuliaan akhlak, serta kecakapan menghadapi perubahan zaman.

Nilai-nilai Al-Qur’an harus diterjemahkan menjadi perilaku sehari-hari. Karena itu, generasi muda didorong untuk tidak berhenti pada prestasi keagamaan.

“MTQ harus menjadi bagian daripada ekosistem ilmu dan peradaban Al-Qur’an. Bukan hanya living together Al-Qur’an tetapi menjadi living Qur’an,” katanya.

Lebih jauh dapar diimplementasikan dalam teknologi, berkomunikasi di media sosial, bekerja, belajar, berinteraksi dengan masyarakat, menghormati perbedaan, dan memberikan manfaat bagi orang lain.

“Takzim amalan ini ialah dari sekadar menghafal menuju mengamalkan, dari sekadar memperlombakan Al-Qur’an menuju membangun kehidupan yang Qur’ani,” katanya. (*)

Editor: Diaz A Abidin

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp