SEMARANG, beritajateng.tv – Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Lebaran Idulfitri 2026 pada Jumat, 20 Maret 2026. Dalam perhitungannya, Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal yang terintegrasi dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Tengah, K.H. Tafsir, menjelaskan bahwa sejak Ramadan 1447 Hijriah Muhammadiyah mulai menggunakan pendekatan hilal global dalam Kalender Hijriah Global Tunggal.
Menurutnya, perubahan tersebut membuat penentuan awal bulan Ramadan dan Syawal tidak lagi hanya bergantung pada posisi hilal di wilayah Indonesia.
“Perlu diketahui bahwa mulai Ramadan tahun ini, 1447 Hijriah, Muhammadiyah mengubah tentang matla, dari matla lokal Indonesia menjadi matla global. Dari hilal lokal Indonesia menjadi hilal global,” ujar Tafsir saat beritajateng.tv temui di Jalan Pemuda pada Selasa, 10 Maret 2026.
BACA JUGA: Polda Jateng Prediksi Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 Terjadi Dua Kali: 14-15 dan 18-19 Maret
Ia mencontohkan, pada awal Ramadan tahun lalu Muhammadiyah dan pemerintah masih memulai puasa secara bersamaan karena posisi hilal saat itu masih berada di bawah ufuk.
Namun, dengan konsep hilal global, Muhammadiyah dapat menggunakan titik pengamatan di wilayah lain di dunia yang sudah memenuhi syarat terlihatnya hilal.
“Karena Muhammadiyah menggunakan hilal global, mengambil titik di Alaska dan itu sudah kelihatan, maka bagi Muhammadiyah karena menggunakan kalender Hijriah Global Tunggal, untuk seluruh dunia cukup satu titik,” jelasnya.
Artinya, jika di satu titik di bumi posisi hilal sudah berada di atas ufuk berdasarkan perhitungan hisab, maka tanggal 1 Ramadan atau 1 Syawal sudah dianggap berlaku untuk seluruh dunia.
“Ketika ada satu titik di muka bumi sudah ada hilal di atas ufuk itu sudah tanggal satu, berlaku untuk seluruh dunia, tidak bersifat lokal,” katanya.





