SEMARANG, beritajateng.tv – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, potensi perbedaan penetapan awal puasa kembali mencuat. Pemerintah dijadwalkan akan menggelar sidang isbat untuk menentukan awal Ramadan 2026.
Sementara Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan 1 Ramadan berdasarkan Maklumat Muhammadiyah Nomor 01/MLM/1.1/B/2025 dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Dalam keputusan tersebut, Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
BACA JUGA: Mudik Lebaran Gratis 2026 untuk Perantau Asal Jateng, Begini Syarat dan Cara Daftarnya
Menyikapi kondisi ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tengah mengimbau masyarakat agar tidak memperbesar perbedaan yang berpotensi muncul.
Sekretaris MUI Jawa Tengah, Multazam Ahmad, menilai perbedaan penetapan awal Ramadan merupakan hal yang kerap terjadi dan seharusnya disikapi dengan bijak. Menurutnya, perbedaan metode penentuan awal bulan tidak perlu memicu polemik di tengah umat.
“Penetapan dari Muhammadiyah sudah ada, sementara pemerintah masih menunggu hasil sidang isbat. Yang paling penting adalah bagaimana umat Islam saling menghargai dan menjaga toleransi,” kata Multazam pada Selasa, 3 Februari 2026.
Belum Ada Edaran soal Kemungkinan Perbedaan Awal Ramadan 2026
Meski MUI Jawa Tengah belum mengeluarkan edaran resmi terkait kemungkinan perbedaan awal Ramadan, Multazam berharap masyarakat tetap mengedepankan persatuan dan kebersamaan dalam menyambut bulan suci.
“Kalaupun nanti ada perbedaan, sebaiknya tidak dipermasalahkan secara berlebihan. Saya optimistis umat Islam sudah semakin dewasa dalam menyikapi perbedaan seperti ini,” ujarnya.
Selain soal penetapan awal puasa, MUI Jateng juga mengingatkan pentingnya menjaga kenyamanan lingkungan selama Ramadan.
Multazam menyoroti pengeras suara di masjid dan musala agar penggunaannya secara proporsional, terutama pada malam hari.
BACA JUGA: Bulog Jateng Pastikan Stok Beras Aman Jelang Ramadan, Cadangan 300 Ribu Ton Cukup hingga 7 Bulan
“Takmir masjid perlu bijak mengatur volume dan waktu penggunaan pengeras suara, apalagi jika di sekitar ada warga yang sedang sakit atau saat jam istirahat,” tegasnya.
Ia juga mengajak para penceramah untuk mengisi Ramadan dengan dakwah yang menyejukkan dan menumbuhkan persaudaraan. Materi ceramah harapannya mampu memperkuat iman dan takwa sekaligus menjaga ukhuwah Islamiyah.
“Ramadan harus menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan dan menghadirkan ketenangan, bukan sebaliknya,” pungkas Multazam. (*)
Editor: Mu’ammar R. Qadafi





