Lebih lanjut, Ratih mengatakan, tantangan industri teh bukan hanya persoalan produksi dan pemasaran. Akan tetapi juga edukasi konsumen. Dia menilai perlu memperkenakan budaya minum teh dengan cara yang lebih dekat dengan generasi muda.
Nalate bermaksud menggelar kelas teh, kegiatan tea gathering, hingga lokakarya untuk memperkenalkan perbedaan white tea, green tea, oolong, dan black tea. Termasuk teknik penyeduhan dan cara mengenali karakter rasa.
“Kami pengin teh itu tidak terlihat tua. Jadi terlihat cheerful, terlihat happy ketika menyeduh ataupun ketika kita minum,” kata dia.
Konsep tersebut kemudian harus mengembang melalui kegiatan yang menggabungkan teh dengan yoga, meditasi, mindfulness, hingga kolaborasi bersama psikolog dan praktisi kreatif.
Bagi Ratih, minum teh juga dapat menjadi aktivitas untuk berhenti sejenak dan memperhatikan aroma, warna, rasa, serta proses penyeduhan. Dari Batang, Nalatea ingin memperkenalkan bahwa teh Indonesia tidak hanya bisa menjadi komoditas, tetapi juga bagian dari pengalaman dan gaya hidup.
“Secara pribadi, sebagai Ratih dan sebagai Nala, saya ingin teh itu bisa berkembang lebih dan bisa dapat apresiasi lebih juga. Di Jawa Tengah, di Batang, di Indonesia pada umumnya sebenarnya tidak kalah dengan negara-negara lain,” tutur Ratih. (*)
Editor: Diaz A Abidin





