“Walaupun sedikit, tidak apa-apa, kita bisa bertemu bareng,” katanya.
Ratih juga memiliki perhatian khusus terhadap para pemetik teh. Dia menceritakan pengalamannya bertemu ibu-ibu pemetik yang harus membawa puluhan kilogram daun teh dengan nilai hasil yang menurutnya masih rendah.
Dari keresahan tersebut, Ratih berupaya mendorong produk dengan nilai jual lebih tinggi agar petani dan pemetik dapat memperoleh manfaat lebih besar. Menurut Ratih, langkah tersebut sekaligus menjadi upaya menjaga keberlanjutan regenerasi petani teh di Batang.
Apa Saja Varian Nala Tea?
Sejauh ini Ratih mengembangkan empat jenis teh murni (base tea), yakni white tea, green tea, oolong tea, dan black tea. Seluruhnya menggunakan bahan baku specialty tea dengan pemetikan yang dilakukan secara selektif sejak dari kebun.
Selain single origin, Nalatea mengembangkan sejumlah varian artisan yang memadukan teh dengan bunga, rempah, maupun bahan alami lainnya.
BACA JUGA: Potret Seniman Kaligrafi India Gori Yusuf Husen, Wariskan Teknik Klasik ke Penjuru Dunia
Beberapa varian yang ditampilkan Nalatea antara lain Nalawatea Function & Wellness Tea, Ramu Cotecaberry, Swaran Blue, Manala Chai, Dahayu, dan Santika.
Nalawatea merupakan teh putih yang dipadukan dengan bunga dan buah, sedangkan Ramu Cotecaberry menggunakan teh hitam dengan aroma kopi, rasa manis gojiberry dan nanas, serta aftertaste cokelat dan sensasi peppermint.
Sementara Swaran Blue merupakan teh putih dengan perpaduan bunga dan buah. Ada pula Manala Chai yang mengombinasikan teh hitam dengan berbagai rempah dan aroma peppermint.
Varian lainnya, Dahayu, memadukan teh hijau dengan sejumlah bunga untuk memberikan karakter rasa yang lebih ringan. Sedangkan Santika memadukan teh hijau dengan aroma menenangkan seperti chamomile dan mint.
Ratih mengatakan warna-warni pada produk Nala juga berasal dari bahan alami. Misalnya, warna biru berasal dari bunga telang, sedangkan warna peach dapat muncul dari kayu secang ketika diseduh dengan lemon mineral.





