Data internal ESB juga menunjukkan performa positif merchant F&B pengguna layanannya di Semarang. Sepanjang Januari-Juli 2026, pertumbuhan same-store tercatat 8,3 persen dari sisi transaksi dan 6,6 persen dari sisi omzet.
Angka tersebut membandingkan performa outlet yang sama dari tahun ke tahun. Artinya, pertumbuhan tidak semata-mata berasal dari bertambahnya merchant baru.
Sebanyak 75,4 persen transaksi merchant tersebut juga telah dilakukan secara non-tunai. Sementara itu, pukul 19.00 menjadi waktu dengan aktivitas pemesanan makanan paling tinggi, berada dalam periode makan malam 18.00-21.00.
Gunawan mengatakan pertumbuhan transaksi tersebut menjadi sinyal bahwa pelanggan tetap kembali ke gerai yang sama. Namun, pengusaha tetap harus memastikan kenaikan transaksi tidak habis untuk menutup kenaikan biaya operasional.
“Tidak hanya rasanya yang jujur, dan ternyata data di Semarang juga bicara hal yang sama. Transaksi tumbuh, tapi yang membuat kami senang itu tumbuhnya di toko-toko yang sama, bukan hanya karena ada merchant baru yang bergabung. Artinya, pelanggan benar-benar datang kembali,” katanya.
Menurut Gunawan, tantangan berikutnya adalah menjaga agar pertumbuhan tersebut tetap menghasilkan margin yang sehat.
“Tugas kami di ESB hanya satu, yaitu memastikan di balik momen itu, operasionalnya tidak kewalahan dan bisa melayani dengan baik, serta para pebisnis tetap bisa mendapatkan margin yang baik meski harga bahan baku naik-turun,” ujarnya.
Tekanan terhadap margin memang menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan. Data BPS Jawa Tengah per Agustus 2026 yang disampaikan ESB mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama inflasi bulanan dengan andil 0,28 persen.
Kenaikan tersebut antara lain dipengaruhi harga daging ayam ras, cabai rawit, dan buncis. Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah pada Agustus 2026 tercatat 3,08 persen.
Bagi pengusaha kuliner, kenaikan harga bahan baku membuat pengelolaan biaya menjadi semakin krusial. Mereka tidak bisa terus-menerus menaikkan harga menu karena daya beli konsumen juga harus di pertimbangkan.





