SEMARANG, beritajateng.tv – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyatakan peringatan Hari Otonomi Daerah harus menjadi momentum penting untuk semakin menguatkan kemandirian fiskal di wilayahnya.
Hal itu ia sampaikan usai menjadi inspektur upacara Peringatan Hari Otonomi Daerah ke-30 Tingkat Provinsi Jateng Tahun 2026 di halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin, 27 April 2026.
Menurut Luthfi, kemandirian fiskal tidak dapat ԁicapai jika daerah berjalan sendiri-sendiri. Namun, butuh upaya-upaya kolaboratif dari berbagai pihak.
Karenanya, ia meminta pemerintah kabupaten/kota membangun pusat pertumbuhan ekonomi baru sesuai potensi wilayah masing-masing.
Beberapa kawasan aglomerasi seperti Solo Raya, Pekalongan Raya, Banyumas Raya, Muria Raya, dan Semarang Raya dapat menjadi simpul penguatan ekonomi daerah.
BACA JUGA: Rayakan Hari Otonomi Daerah XXIX, Bupati Blora Bahas Agenda Strategis Pembangunan
Luthfi menegaskan, dalam membangun ekonomi wilayah, daerah tidak boleh terjebak ego sektoral. Pemerintah provinsi akan mengambil peran sebagai koordinator dalam pengawasan wilayah, agar pemerataan pembangunan dapat berjalan lebih baik.
Dalam kesempatan itu, Ia juga menekankan agar pelaksanaan otonomi daerah harus makin berorientasi pada manfaat nyata bagi masyarakat.
Pelayanan publik tidak boleh lagi sekadar administratif, tetapi harus menjawab kebutuhan warga. Menurutnya, Aparatur Sipil Negera (ASN) dan birokrasi pada dasarnya hadir untuk melayani masyarakat.
“Pelayanan publik kita tidak lagi berorientasi kepada administrasi. Pelayanan kita harus berorientasi kepada kemanfaatan bagi masyarakat. Karena sejatinya ASN atau kita birokrasi adalah melayani masyarakat,” ujarnya.
Luthfi juga mengingatkan pentingnya efisiensi anggaran. Dalam semangat otonomi daerah, setiap kegiatan pemerintah harus tepat guna, tidak boros, dan benar-benar memberi manfaat kepada masyarakat.
“Tidak boleh ada pemborosan, kemudian harus tepat guna dan tidak boleh segala kegiatan tidak bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.





