Jateng

Pantas Hawanya Sumuk, Ternyata Semarang Masuk Daftar Kota Bersuhu Panas Anomali: No. 11 di Dunia!

×

Pantas Hawanya Sumuk, Ternyata Semarang Masuk Daftar Kota Bersuhu Panas Anomali: No. 11 di Dunia!

Sebarkan artikel ini
Suhu Panas Anomali
Petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan pantauan suhu udara. (ant)

SEMARANG, beritajateng.tv – Sebanyak tiga kota di Indonesia masuk daftar kota dengan suhu panas tak biasa atau anomali. Penyebabnya, menurut laporan Climate Central, ialah perubahan iklim periode Maret-Mei 2024.

Laporan “People Exposed to Climate Change: March-May 2024” memperlihatkan Makassar di Sulawesi Selatan, Semarang di Jawa Tengah, dan Jakarta masuk daftar kota-kota dengan suhu panas tak biasa lantaran perubahan iklim.

Dalam laporan Climate Central beberapa waktu yang lalu, Makassar masuk dalam urutan teratas daftar kota di dunia dengan anomali suhu panas oleh perubahan iklim.

BACA JUGA: Semarang Sumuk! Mapala dari 7 Kampus Gelar Aksi Peringati Hari Lingkungan Hidup

Anomali suhu panas di Makassar itu berdasarkan catatan 92 hari berada dalam indeks pergeseran iklim atau climate shift index (CSI) level 3 atau lebih tinggi, dan anomali suhu mencapai 1,2 derajat Celcius.

Selain itu, Kota Semarang menduduki posisi ke-11 dalam daftar yang sama. Dengan catatan, 88 hari pada CSI level 3 atau lebih tinggi, dan anomali suhu 1,4 derajat Celcius.

Sementara Jakarta masuk daftar kota-kota besar global dengan suhu panas tak biasa lantaran perubahan iklim di posisi keempat. Dengan catatan, 77 hari pada CSI level 3 atau lebih tinggi dan anomali suhu 0,9 derajat Celcius.

Anomali suhu panas dunia

Dalam laporannya, Climate Central menjelaskan pihaknya menerapkan metode CSI. Metode itu yakni untuk mengukur pengaruh lokal perubahan iklim terhadap suhu harian di seluruh dunia.

CSI level 1 berarti perubahan iklim dapat terdeteksi, secara teknis, kenaikan suhu setidaknya 1,5 kali lebih mungkin terjadi. Sedangkan CSI level 2 berarti kenaikan suhu setidaknya dua kali lebih mungkin terjadi.

Laporan itu juga mengemukakan periode Maret, April, dan Mei 2024 memecahkan rekor bulanan dalam catatan temperatur global.

BACA JUGA: Semarang Terasa ‘Sumuk’ Saat Malam, BMKG Ahmad Yani Tegaskan Bukan Heat Wave, Ini Penyebabnya

Dampak perubahan iklim akibat aktivitas manusia, termasuk pembakaran bahan bakar fosil, terlihat secara khusus dalam bentuk panas ekstrem.

Menurut laporan itu pula, sekitar satu dari empat orang di dunia mengalami peningkatan suhu setidaknya tiga kali lipat setiap hari. Hal itu sebagai akibat perubahan iklim selama 1 Maret hingga 31 Mei 2024.

Sementara puncak peningkatan suhu yakni pada 6 April 2024. Pada tanggal itu, 2,7 miliar orang atau satu dari tiga orang di dunia merasakan suhu tak biasa. Terlebih, dengan pengaruh kuat dari perubahan iklim. (ant)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp