“Kuda itu binatang yang kuat dan liar. Kalau bisa kita kendalikan, itu jadi potensi besar. Situasi ekonomi sekarang memang kurang bagus, bukan hanya di Indonesia, tapi global. Ini seperti mengendalikan kuda api, perlu kebijakan yang tepat,” ujarnya.
Ia menyinggung dampak kebijakan ekonomi global, termasuk perubahan tarif perdagangan internasional, yang ikut memengaruhi iklim usaha di dalam negeri. Menurutnya, pemerintah perlu merumuskan kebijakan yang adaptif agar kelesuan ekonomi bisa ditekan.
“Belajar dari 2025 yang berat, kita harus lebih siap di 2026. Efek kebijakan luar negeri bisa berantai. Relokasi industri, persaingan dengan perusahaan lokal, semuanya saling terkait,” katanya.
Tuk Panjang, Inti Kekeluargaan Imlek
Salah satu agenda khas dalam rangkaian Imlek di Semarang adalah tradisi tuk panjang. Harjanto menjelaskan bahwa Imlek sejatinya bukan identik dengan angpau, melainkan momen makan bersama keluarga.
“Imlek itu inti utamanya kekeluargaan. Biasanya malam sebelum tahun baru, keluarga besar berkumpul di rumah yang paling senior untuk makan bersama. Meja ditata panjang, itu yang disebut tuk panjang,” jelasnya.
Tradisi ini kemudian direplikasi di ruang publik sebagai simbol kebersamaan antara pemerintah dan warga. Sekitar 200 undangan akan duduk bersama menikmati hidangan khas, termasuk sajian Muslim dari Xinjiang.
“Ini simbol saja. Yang penting interaksi masyarakat beda etnis, beda agama, beda sosial di Semarang tetap terjaga. Kota ini salah satu yang paling kondusif,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya tradisi memasak bersama di rumah. Menurutnya, aktivitas di dapur mampu merekatkan hubungan keluarga yang kini mulai tergerus budaya serba instan.
“Ternyata masak bareng itu lebih hangat daripada sekadar makan bersama. Anak-anak ikut bantu bikin gyoza, itu kenangan yang tidak tergantikan,” katanya.
Tantangan Warung Semawis
Selain Pasar Imlek, kawasan Pecinan juga dikenal lewat Warung Semawis yang buka setiap Jumat hingga Minggu. Namun belakangan muncul anggapan bahwa kunjungannya menurun.
Harjanto mengakui ada sejumlah tantangan, terutama faktor cuaca dan persaingan dengan pusat perbelanjaan modern.





