“Mall sekarang rajin bikin festival kuliner, tempatnya ber-AC. Tapi nuansa jalanan dengan klenteng dan suasana Pecinan itu tidak bisa direplikasi. Itu keunggulan Semawis,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah kota dapat terus memperbaiki infrastruktur seperti penerangan dan drainase agar kawasan tetap nyaman dikunjungi.
Baginya, Imlek di Semarang bukan sekadar agenda tahunan, melainkan cerminan harmoni yang sudah lama hidup di tengah masyarakat. “Keberagaman itu bukan cuma dirayakan saat Imlek. Di Semarang, itu sudah dijalani sehari-hari,” pungkasnya. (*)
Editor: Elly Amalia





