Gaya Hidup

Kisah Pedagang Hewan Reptil di Semarang, Awalnya karena Alergi Bulu

×

Kisah Pedagang Hewan Reptil di Semarang, Awalnya karena Alergi Bulu

Sebarkan artikel ini
pedagang hewan reptil
Pedagang hewan reptil itu ini sukses membangun usahanya yang berawal dari alergi hewan berbulu. Sabtu (20/5/2023). (Fadia Haris Nur Salsabila/beritajateng.tv).

SEMARANG, beritajateng.tv – Berawal dari memiliki alergi terhadap hewan berbulu, siapa sangka mampu membuat Tulus Dior Royen, pedagang hewan reptil sukses mendirikan sebuah toko hewan reptil di Semarang.

Berlokasi di Lamper Tengah Gg.XIV no.41-A, dari luar gerai 7 reptil sudah terlihat puluhan akuarium berjejer memamerkan berbagai hewan reptil. Mulai dari ular, iguana, kadal, hingga kura-kura secara sekilas nampak menyeramkan. Meski begitu, hewan reptil tetap memiliki penggemar setianya, salah satunya Tulus Dior Royen, pedagang hewan reptil.

Ditemui beritajateng.tv langsung, Royen sapaan akrabnya, mengaku kecintaannya terhadap hewan reptil berawal dari hal unik. Ia yang memang mencintai dunia binatang sejak kecil, terpaksa memelihara hewan reptil karena memiliki alergi terhadap hewan berbulu. Hal tersebut membuatnya terinspirasi menjadi pedagang hewan reptil.

“Basicnya memang suka hewan, dari kelas 5 SD udah ternak ikan, di rumah ayah juga pelihara burung, kakak pelihara anjing. Tapi begitu saya pegang anjing, kucing, atau hewan berbulu lainnya, saya alergi. Akhirnya memutuskan bagaimana cara punya hewan yang nggak berbulu, akhirnya milih reptil,” cerita Royen, belum lama ini.

Berangkat dari situ, kecintaan Royen terhadap hewan reptil muncul. Tak lagi sekadar hobi, Royen bahkan pernah bekerja selama tiga tahun di salah satu toko hewan reptil sebelum akhirnya memberanikan membuka tokonya sendiri.

“Modalnya pasti lebih dari ratusan juta, tapi pelan-pelan, karena kan hobi juga nggak berasa, ternak sendiri juga akhirnya banyak dan bisa jadi toko. Tapi modalnya setelah resign cuma Rp 600 ribu,” lanjutnya.

Membuka bisnis hewan reptil, ia sudah berpindah-pindah tempat beberapa kali. Mulai dari GOR Trijuang, Pasar Burung Kartini, hingga terbaru ia bisa membuka toko sendiri di sebuah rumah di Lamper Tengah.

Namun, dalam perjalanannya sebagai pedagang hewan reptil, ternyata Royen beberapa kali menemui kendala. Salah satunya adalah ketika ia pernah diusir oleh tetangganya.

“Waktu di Semarang Barat pernah diusir, posisi udah pindahan, tapi tetangga persis tidak mau bertetangga dengan ular, jadi terpaksa pindah,” lanjutnya.

Padahal, menurut Royen, berbeda dengan kucing dan anjing, ular sangat jarang kabur dari kandang. Terlebih, kandang ular besar dan berbahaya pasti memiliki sistem keamanan ganda. Meski begitu, masih banyak masyarakat yang masih takut akan hewan reptil ini.

Butuh Keseriusan Luar Biasa Sebagai Pedagang Hewan Reptil

Berbisnis hewan reptil jelas berbeda dengan bisnis hewan jinak lainnya. Royen pun mengakui hal tersebut. Meski begitu, berkat kecintaannya terhadap hewan reptil, Royen tak segan-segan turun langsung ke kandang.

“Hobi saya reptil, kerjaan saya reptil, saya bahkan masih turun sendiri. Itu kalau nggak bener-bener suka dan nggak bener-bener hobi, nggak akan mau ngurusin hewan segede 5 meter dan pakai tangan kosong gitu,” ungkapnya.

Meski telah puluhan tahun berkawan dengan hewan reptil, Royen mengakui beberapa kali tergigit oleh peliharaannya. Bagaimanapun, kata royen, hewan reptil mempunyai insting alami untuk menyerang.

“Kita bermain dengan predator, mesti sadar kalau dia punya insting alami buat menyerang. Jadi jangan sepelekan reptil,” pesan Royen (*).

Editor: Andi Naga Wulan.

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp