Nasional

Peliputan Manusiawi di Tengah Demonstrasi: Jurnalis India Tekankan Pentingnya Kebenaran dan Keberanian

×

Peliputan Manusiawi di Tengah Demonstrasi: Jurnalis India Tekankan Pentingnya Kebenaran dan Keberanian

Sebarkan artikel ini
India
Chief Correspondent Reuters untuk Thailand dan Myanmar, Devjyo Ghoshal, saat menjadi narasumber Voices of Tomorrow: Where Young Journalists Meet Editorial Wisdom, pada Sabtu, 30 Agustus 2025. (Foto: Dok. Pribadi)

“Pengawasan internal Polri saja tidak cukup. Masyarakat butuh percaya kembali dan di situ pengawas eksternal punya peran penting,” tambahnya.

Tak hanya itu, Devjyot Ghoshal mengingatkan bahwa ketika pemerintah enggan membuka diri, jurnalis tetap bisa mencari perspektif lain dari akademisi maupun kelompok masyarakat sipil.

Konteks itulah yang membuat pandangan pengamat politik Unika Soegijapranata, Andreas Pandiangan, menjadi penting. Ia menyebut sikap DPR RI yang enggan menemui massa justru memperuncing krisis. Andreas menyoroti permintaan maaf Ketua DPR RI Puan Maharani yang hanya tersampaikan lewat media sosial.

Andreas menilai, demonstrasi yang berlarut adalah cerminan krisis kepercayaan masyarakat terhadap negara. Ia juga mengkritik kenaikan tunjangan DPR RI yang publik nilai tidak pantas di tengah kesulitan rakyat.

“Ini sebetulnya krisis. Negara tidak hadir, aparat pun tidak mampu mengelola. Harusnya pemimpin turun, jangan malah menjauh. Kalau DPR peduli, mestinya malah mengurangi tunjangan sebagai bentuk empati,” ujar Andreas.

Kebebasan Pers, Penopang Demokrasi Indonesia dan India

Kisah orang tua menunggu nasib anaknya yang tertangkap aparat pascademonstrasi hingga kritik akademisi menggambarkan kompleksitas demokrasi Indonesia hari ini. Dalam ruang seperti itu, jurnalis dituntut tetap tegak menjaga integritas.

Devjyot Ghoshal mengingatkan, liputan soal hak asasi manusia (HAM) menuntut keberanian dan akurasi. Bahkan ketika semua pintu resmi tertutup, wartawan tetap harus mencari jalan untuk menghadirkan cerita yang seimbang.

Andreas Harsono menambahkan, keberanian itu harus berimbang dengan kerendahan hati dalam verifikasi. Transparansi, keterbukaan metode, dan disiplin pada urutan sumber menjadi benteng agar jurnalis tak sekadar cepat, tetapi juga terpercaya.

Pesan keduanya berpaut, yakni jurnalis tidak boleh diam ketika pemerintah bungkam, dan tidak boleh gegabah ketika suara publik memanas. Di India maupun Indonesia, dua negara demokrasi besar Asia, kebebasan pers akan kokoh jika dihidupi dengan keberanian sekaligus kehati-hatian jurnalis dalam menjalankan tugasnya. (*)

Editor: Mu’ammar R. Qadafi

Simak berbagai berita dan artikel pilihan beritajateng.tv dengan bergabung ke saluran kami.

Gabung Channel WhatsApp