Salah satu alasan yang mencuat soal pemberlakuan sekolah enam hari ialah kekhawatiran anak-anak yang terlalu longgar tanpa pengawasan di hari Sabtu.
Menurut Edi, alasan itu tidak cukup untuk menjadi basis perubahan kebijakan yang berdampak luas. Ia menilai akhir pekan justru penting bagi siswa untuk membangun kedekatan dengan keluarga dan ruang pengembangan diri di luar sekolah.
“Kalau argumentasinya hanya terkait waktu yang terlalu longgar di akhir pekan, menurut saya kurang kuat. Karena Sabtu dan Minggu memang sebaiknya jadi waktu longgar bagi anak-anak untuk membangun kelekatan dengan keluarga atau ikut kegiatan remaja, klub olahraga, komunitas budaya, dan lainnya,” ujar dia.
Guru, lanjut Edi, juga memerlukan akhir pekan untuk meningkatkan kompetensi tanpa harus mengorbankan waktu bersama keluarga. Jika libur hanya sehari, banyak guru terpaksa memindahkan kegiatan peningkatan kompetensi ke malam hari usai mengajar.
“Guru di akhir pekan juga punya waktu untuk sedikit-sedikit upgrade pengetahuan. Kalau liburnya cuma hari Minggu, sementara jam pulang mengajar sore, biasanya guru akan pakai waktu malam untuk upgrade kompetensi. Ada waktu yang sedianya buat keluarga, jadinya terganggu,” jelasnya.
Edi menambahkan, isu anak-anak yang tidak terawasi pada hari Sabtu seharusnya bukan menjadi beban sekolah. Ia menegaskan bahwa pengasuhan anak pada akhir pekan merupakan tanggung jawab keluarga dan masyarakat.
“Kalau khawatirnya anak tidak terpantau di hari Sabtu, sebenarnya itu sudah domain keluarga, orang tua, dan masyarakat. Karang taruna, ikatan remaja masjid, atau lainnya harus bisa menjadi ruang bertumbuh bagi anak-anak tersebut,” ucapnya.





